MENJELANG USIA KE- 21 TAHUN, MINUS BANTUAN PEMDA
Minimnya perhatian baik secara moril maupun materiil dari pemerintah, membuat sekolah ini seperti didiskriminasi dari lembaga pendidikan lainnya yang tumbuh di kota Jayapura. Di jelang usia ke- 21, sekolah ini belum merasakan sentuhan bantuan dana dari Pemda. “Kita hanya dapat bantuan satu kali tahun 2006, untuk ruang kelas baru,” kata Efendi. Segala upaya pendekatan ke Pemda telah dilakukan untuk menyokong kemajuan dan operasional pendidikan ini. Namun janji hanya sebatas janji, belum terealisasi.
Guru- guru yang ikut CPNS dari SMU Satria, tidak ada yang kembali mengajar di sekolah karena ditempatkan di sekolah lain. Proposal ke semua pejabat yang ada di Papua dan pusat, sudah dialamatkan. Tidak ada respon. Guru- guru yang lolos tes ia minta supaya kembali mengajar di sekolahnya pun, tapi tidak direspon dari dinas.
Hasan ABD Rahman, SE, Wakasek kurikulum mengatakan saat ini terdaftar 148 orang siswa yang sedang mengikuti proses belajar mengajar. 99% putra/putri asli Papua yang berasal dari pegunungan. Dengan jumlah tenaga pengajar 19 orang, semuanya swasta. Dari dulu tidak ada guru, CPNS apalagi PNS.
Ironisnya lagi, meskipun berada ditengah kota, Dinas P dan P yang belum mengetahui keberadaan SMU Satria. “Saya tidak tahu, tidak tahu atau sengaja tidak tahu,” sesal Kasek Efendi. Nada tanya terujar dari bibirnya. Mengapa ada sekolah swasta yang tidak ada ijinnya bisa mengikuti ujian, mendapat bantuan dan guru PNS, sedangkan kami sudah mau 21 tahun tidak dapat apa- apa, padahal legal?
Biaya operasional yang minus, kadang- kadang gaji guru terlambat bayarkan akibat kurangnya dana. Gaji guru bergantung dari SPP siswa setiap bulan. Walaupun keadaan seperti itu, namun ia bersyukur nilai pengabdian guru- gurunya tidak pudar. Bahkan ada yang sudah 20 tahun mengajar, belum di angkat- angkat menjadi PNS.
Walaupun tanpa bantuan dan sokongan dari Pemda, SMU Satria tetap tegas berjalan. Mencerdaskan putra/putri Papua adalah tujuan utama. Acungan jempol dapat diberikan, karena semangat dari guru yang mengajar bahkan pihak yayasan selalu memberikan yang terbaik bagi pendidikan. Hal ini terbukti menjelang usia ke-21 tahun sudah ada 1670 alumni yang tercetak. Dari alumni tersebut saat ini sudah ada yang menjadi ketua DPR di daerah pegunungan, TNI- Polri dan jabatan- jabatan penting di tanah Papua ini. “Ini suatu kebanggan kami,” kata Efendi
Sekolah ini mengusung visi menyiapkan generasi muda terutama putra putri Papua yang cerdas, mandiri, dinamis serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan kebangasaan dengan menjunjung tinggi nilai perjuangan bangsa. Misinya, perluasan kesempatan belajar bagi putra putri Papua, menciptakan SDM yang berkualitas serta melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam meningkatkan prestasi siswa.
Sejak berdiri SMU ini terbuka bagi anak- anak yatim dan yatim piatu untuk menempuh pendidikan secara gratis dengan pembuktian surat keterangan dari camat, lurah atau RT setempat. Efendi berharap, pemerintah bisa dengan tidak membeda- bedakan antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Jika ada bantuan guna menunjang kemajuan sekolah, berikan sesuai porsinya. Ia juga berharap guru- guru PNS ditempatkan di sekolahnya supaya SMU Satria juga bisa berjalan sesuai harapan. Bisa sama dengan sekolah lain, baik dari segi kualitas dab kuantitas. “Sepertinya kita di anak tirikan. Tapi saya tetap optimis SMU Satria akan menjadi barometer pendidikan di kota Jayapura, walaupun tanpa bantuan,” katanya optimis. (Joni Harianto)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar