Kamis, 01 Oktober 2009

MENJELANG USIA KE- 21 TAHUN, MINUS BANTUAN PEMDA

Tumbuh tanpa sokongan dana dari pemerintah tidak membuat sekolah ini tertinggal. Alumninya sukses di bidang eksekutif, legislatif maupun yudikatif

Memasuki usia ke- 21 tahun bagi sebuah lembaga pendidikan sebenarnya sudah bisa dikatakan cukup matang dengan sarana prasarana yang lengkap. Namun anggapan itu langsung hilang dari pikiran kita ketika melihat keberadaan lembaga pendidikan satu ini. di bawah naungan Yayasan Pendidikan Satria Jayapura (Yapesija), di jalan Tasangka- Argapura ini, SMU Satria tegak berdiri. Sederhana. Sekolah yang berdiri tahun 1989 dan beroperasi tahun 1990 ini, sepertinya tidak akrab di telinga kita. Kurang dikenal, jarang diperbincangkan. Padahal terletak persis di jantung kota Jayapura. Foja mendatangi sekolah ini. memprihatinkan. Fasilitas penunjang seperti alat praktek, alat peraga dan laboratorium tidak dimiliki. Semuanya serba terbatas. Foja lebih kaget lagi, karena sekolah ini juga tidak mendapat bantuan guru CPNS dan PNS yang ditempatkan untuk mengajar di sekolah ini. “Guru semuanya swasta,” kata Drs. Efendi H. Ibrahim, MM, Kepala Yapesja yang merangkap sebagai kepala sekolah.

Minimnya perhatian baik secara moril maupun materiil dari pemerintah, membuat sekolah ini seperti didiskriminasi dari lembaga pendidikan lainnya yang tumbuh di kota Jayapura. Di jelang usia ke- 21, sekolah ini belum merasakan sentuhan bantuan dana dari Pemda. “Kita hanya dapat bantuan satu kali tahun 2006, untuk ruang kelas baru,” kata Efendi. Segala upaya pendekatan ke Pemda telah dilakukan untuk menyokong kemajuan dan operasional pendidikan ini. Namun janji hanya sebatas janji, belum terealisasi.

Guru- guru yang ikut CPNS dari SMU Satria, tidak ada yang kembali mengajar di sekolah karena ditempatkan di sekolah lain. Proposal ke semua pejabat yang ada di Papua dan pusat, sudah dialamatkan. Tidak ada respon. Guru- guru yang lolos tes ia minta supaya kembali mengajar di sekolahnya pun, tapi tidak direspon dari dinas.

Hasan ABD Rahman, SE, Wakasek kurikulum mengatakan saat ini terdaftar 148 orang siswa yang sedang mengikuti proses belajar mengajar. 99% putra/putri asli Papua yang berasal dari pegunungan. Dengan jumlah tenaga pengajar 19 orang, semuanya swasta. Dari dulu tidak ada guru, CPNS apalagi PNS.

Ironisnya lagi, meskipun berada ditengah kota, Dinas P dan P yang belum mengetahui keberadaan SMU Satria. “Saya tidak tahu, tidak tahu atau sengaja tidak tahu,” sesal Kasek Efendi. Nada tanya terujar dari bibirnya. Mengapa ada sekolah swasta yang tidak ada ijinnya bisa mengikuti ujian, mendapat bantuan dan guru PNS, sedangkan kami sudah mau 21 tahun tidak dapat apa- apa, padahal legal?

Biaya operasional yang minus, kadang- kadang gaji guru terlambat bayarkan akibat kurangnya dana. Gaji guru bergantung dari SPP siswa setiap bulan. Walaupun keadaan seperti itu, namun ia bersyukur nilai pengabdian guru- gurunya tidak pudar. Bahkan ada yang sudah 20 tahun mengajar, belum di angkat- angkat menjadi PNS.

Prestasi

Walaupun tanpa bantuan dan sokongan dari Pemda, SMU Satria tetap tegas berjalan. Mencerdaskan putra/putri Papua adalah tujuan utama. Acungan jempol dapat diberikan, karena semangat dari guru yang mengajar bahkan pihak yayasan selalu memberikan yang terbaik bagi pendidikan. Hal ini terbukti menjelang usia ke-21 tahun sudah ada 1670 alumni yang tercetak. Dari alumni tersebut saat ini sudah ada yang menjadi ketua DPR di daerah pegunungan, TNI- Polri dan jabatan- jabatan penting di tanah Papua ini. “Ini suatu kebanggan kami,” kata Efendi

Sekolah ini mengusung visi menyiapkan generasi muda terutama putra putri Papua yang cerdas, mandiri, dinamis serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan kebangasaan dengan menjunjung tinggi nilai perjuangan bangsa. Misinya, perluasan kesempatan belajar bagi putra putri Papua, menciptakan SDM yang berkualitas serta melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam meningkatkan prestasi siswa.

Sejak berdiri SMU ini terbuka bagi anak- anak yatim dan yatim piatu untuk menempuh pendidikan secara gratis dengan pembuktian surat keterangan dari camat, lurah atau RT setempat. Efendi berharap, pemerintah bisa dengan tidak membeda- bedakan antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Jika ada bantuan guna menunjang kemajuan sekolah, berikan sesuai porsinya. Ia juga berharap guru- guru PNS ditempatkan di sekolahnya supaya SMU Satria juga bisa berjalan sesuai harapan. Bisa sama dengan sekolah lain, baik dari segi kualitas dab kuantitas. “Sepertinya kita di anak tirikan. Tapi saya tetap optimis SMU Satria akan menjadi barometer pendidikan di kota Jayapura, walaupun tanpa bantuan,” katanya optimis. (Joni Harianto)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar