FOJA 18 - 30 SEPTEMBER 2009
Kuat dengan Motor Gerobak

FOJA/JONI HARIANTO
Ibu Ira (Sebelah kanan) bersama motor jualannya
Usianya hampir kepala
Sebuah sepeda motor bermerk Supra X berhenti di depan Sekolah Advent Argapura.
Pengemudinya seorang perempuan berkerudung. Di bagian belakang motornya duduk sebuah gerobak bertuliskan ‘Pentol Goreng’. Usianya yang tak lagi muda, membuat ia sedikit payah turun dari motornya. Setiap pagi, ia dibantu oleh tukang ojek setempat untuk memegang motornya yang berbeban berat.
Setelah menyandar motor, mulailah tangannya yang tangkas menyalakan kompor di dalam gerobaknya. Sambil menunggu cetakan pentol goreng panas, ia mulai menyiapkan telur, daging dan tepung. Setelah diaduk menjadi satu, tepung siap digoreng dalam cetakan. Pentolan yang sudah matang, ditusuk sebanyak tiga buah persis sate. Satu tusukan pentol goreng harganya Rp 1000. Pentol goreng disiapkan sebanyak mungkin untuk menunggu anak-anak sekolah istirahat.
Ibu Ira, itulah namanya sesuai nama anak semata wayangnya. Bagi siswa yang bersekolah di Advent-Argapura, wajah Ibu Ira sudah tidak asing lagi. Karena saban hari, saat jam istirahat sekolah, mereka selalu menyantap pentol goreng buatan ibu Ira. Begitu juga dengan tukang ojek di sekitar, selalu membantu Ibu Ira mengangkat jualannya. Sekolah Advent menjadi tempat mangkal Ibu Ira untuk mencari nafkah, memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dari pagi sampai usai jam sekolah. “Kalau anak sekolah pulang, ya saya pulang juga,” kata ibu kelahiran 1964 ini.
Pekerjaan itu digeluti ibu Ira sejak suaminya jatuh sakit. Kini sedang berobat di Jawa. Penghasilan dari berjualan pentol goreng tidak begitu besar, namun itulah usaha yang dapat dilakukan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, terlebih untuk menanggung biaya berobat suaminya. Sebelum suaminya sakit, Ibu Ira bersama suaminya berjualan bakso dorong di depan pelabuhan Jayapura. Namun saat ini tidak dilanjutkan karena tidak ada yang membantu mendorong gerobaknya.
Awal berjualan pentol goreng menggunakan gerobak di belakang motor, terasa berat. Namun lambat laun terbiasa, walaupun membuatnya keletihan. Ibu kelahiran Pati-Jawa Tengah ini ternyata pernah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan saat ia berjualan pentol goreng. Dimarahi orang mabuk sering dialaminya. Sebagai seorang perempuan, tentunya ia takut dan gemetar. “Sebagai perempuan kita takut to mas.” Ia bersyukur, saat ini sudah tidak ada lagi gangguan yang membuat dirinya resah.
Pekerjaan Ibu Ira penuh resiko. Selain resiko akibat kompor yang dinyalakan menyatu di kap motornya, juga cuaca yang tidak bersahabat (hujan) membuat jualannya basah. Sering ia rugi. Untuk menambah pendapatan, ibu yang sudah punya cucu satu ini membuat kue yang dititipkan di kios-kios dan dibawa sendiri.
Dalam hati Ibu Ira, tersimpan suatu keinginan membuat tempat usaha baru dimana berjualan bakso yang sudah ada tempatnya, sehingga tidak menguras tenaga. “Saat ini belum ada dana mas,” kata suami Warijam ini lirih. Berjualan bakso bukanlah pekerjaan baru bagi ibu Ira. Pekerjaan itu sudah dilakukan sejak tahun 1990 di pelabuhan.
Pengalaman hidup dan sifat mau bekerja keras, membuatnya tetap bertahan. Sejak hijrah di Kota Jayapura, berbagai jenis pekerjaan sudah ditekuninya, mulai dari pembantu rumah tangga, tukang jamu gendong sampai sales, dilakoninya. Semuanya dilakukan tanpa ada rasa malu, apalagi gengsi. Yang penting pekerjaan tersebut halal dan bisa menopang kebutuhan hidup. (Joni Harianto)