Jumat, 21 Agustus 2009

SOFTBALL

Softball Papua

Ukir Prestasi di Timnas

Mencetak atlet bagi Timnas, bahkan 3 kali menyabet medali perunggu. Namun siapa sangka, tim Softball Papua belum memiliki lapangan standar.

“Fasilitas minim tidak menjadi alasan untuk tidak berprestasi. Malahan softball Papua menjadi pencetak altlet Tim Nasional (Timnas)”. Kata itulah yang terungkap dari Wakil Ketua Umum Softball Papua, Ir. Tulus Sianipar, MM saat ditemui awak Foja. Permainan Softball yang diciptakan oleh George Hancoc di kota Chicago Amerika Serikat tahun 1887 ini, mulai berkembang dan diminati pelajar di kota Jayapura. Awalnya sofball dimainkan hanya untuk kegiatan rekreasi semata dan dilakukan di lapangan tertutup. Namun ternyata dalam waktu singkat softball justru menjadi permainan yang banyak digemari masyarakat disana (Amerika Serikat- red) waktu itu. Daya tarik yang utama mengapa permainan ini cepat dicintai masyarakat, karena permainannya berbeda-beda dengan baseball (bisbol). Softabll dapat dimainkan oleh setiap orang dengan tidak memandang usia, baik pria ataupun wanita, dan tak memerlukan lapangan yang luas dan yang terutama dapat dimainkan di gelanggang tertutup. Dari Amerika Serikat, olahraga ini berkembang ke Kanada dan dari sanalah Softball makin berkembang ke seluruh penjuru dunia. Melihat perkembangan Softball sedemikian cepatnya dan adanya kompetisi antara negara setiap tahunnya. Timbullah perhatian Indonesia terhadap cabang olahraga ini secara serius. Mulanya Softball hanya berkembang di Jakarta, Bandung, Pelembang, Semarang dan Surabaya. Tetapi kini telah menjadi salah satu cabang olahraga yang yang sangat digemari masyarakat, terutama para pelajar dan mahasiswa. Untuk menyalurkan kegiatan-kegiatan Softball di Indonesia, diperlukan suatu badan yang mengaturnya, maka dibentuklah Organisasi Induk dengan nama PERBASASI (Perserikatan Baseball & Softball Amatir Seluruh Indonesia). Dengan adanya wadah PB. PERBASASI ini mulailah diadakan kompetisi Softball tingkat nasional. Kejuaraan Nasional I diselenggarakan tahun 1967 di Jakarta. Di samping itu sejak PON VII di Surabaya, Softball menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. Apalagi lapangan permainan Softball tidak terlalu luas, berupa lapangan 4 x 20 meter lebar sisinya (60 feet). Walaupun sudah ada ukuran lapangan tersendiri, tetapi ukuran tersebut dapat diperkecil untuk berlatih dalam permainan. Meskipun permainan ini belum begitu populer di telinga masyarakat, namun tim Softball Papua sudah menyumbang dua medali perunggu di PON dan satu medali perunggu dari Sea games. Yang paling membanggakan, Softball Papua menjadi pencetak atlet Tim nasional.

Prestasi yang diukir tim Softball Papua memang tidak diikuti dengan fasilitas yang memadai. Bahkan nyaris tidak ada perhatian. Lapangan untuk latihan di kantor dinas Otonom, Kotaraja Jayapura, bukanlah lapangan yang layak, apalagi pada saat diguyur hujan. Lapangan menjadi becek, latihan pun tidak bisa dilakukan. ”Inilah keadaan kita sekarang ini. Lapangan tidak berstandar,” kata Tulus menunjukkan pada Foja kondisi lapangan itu. Walaupun fasilitas tidak memadai, ia berbesar hati karena tim Softball Papua bisa berprestasi, bahkan tidak bisa dipandang sebelah mata oleh tim lain. Di lapangan, tim Softball Papua menjadi momok bagi lawan tandingnya. Tahun 2004 tim softball putri Papua merebut medali perunggu di PON XVI Palembang, dan PON XVII di Kalimantan Timur serta Sea Games Asia tahun 2005 di Filipina. ”Semuanya diraih Softball putri. Kalau putra hanya masuk delapan besar saja,” kata Tulus. Apresiasi patut diberikan pada tim putri. Soalnya, meskipun berbagai tantangan fasilitas yang minim, namun dapat menoreh prestasi gemilang. Hal ini juga tidak terlepas dari bentuk kerja keras pihak manajemen dan perjuangan atlet yang berjuang dengan fasilitas seadanya. Tulus mengakui, Softball merupakan sebuah permainan yang membutuhkan peralatan yang cukup mahal. Apalagi belum ada sponsor yang bersedia membantu. Ini menjadi kendala dan tantangan yang dihadapi tim.

”Kami berharap pemerintah dapat memperhatikan dan membantu kami dalam fasilitas dan pembuatan lapangan yang berstandar, sehingga tim Softball Papua bisa lebih maju lagi,” harapnya. Hal senada juga diungkapkan Desy, Rahel, Gelda dan Robeca yang menjadi tim senior Softball Papua yang masih produktif. ”Kami berharap semoga ada perhatian pemerintah untuk lapangan permainan,” kata Desy. Untuk mempopulerkan dan memperkenalkan Softball di Papua, pihak manajemen Softball sudah mengadakan kerjasama dengan pihak sekolah di Jayapura untuk menjadi kegiatan ekstra kurikuler wajib sekolah. Sedangkan untuk di daerah, dikirim instruktur guna melatih guru olahraga yang ada di sekolah-sekolah. Setiap tiga kali seminggu, diadakan latihan di kantor Dinas Otonom, Kotaraja. Para junior berlatih didampingi seniornya dengan melakukan latihan dasar, lempar tangkap, sampai game. ”Peralatan yang kita gunakan saat ini masih yang lama, sehingga pada saat lempar tangkap ada pemain junior yang mengeluh karena menimbulkan rasa sakit,” kata Gelda. Ke depan, pihak Softball Papua mempunyai agenda sesuai program Pengprov Perbasasi mengikuti program Perbasasi Pusat, akan merekrut atlet persiapan Kejurnas yang nanti menjadi cikal-bakal atlet PON. Agenda kedua, mengadakan pertandingan antar daerah untuk menjaring atlet-atlet yang dipersiapkan memperkuat atlet daerah. Untuk itu, tim masih berpikir bagaimana bisa membangun lapangan yang berstandar dan mencari atlet, karena selama ini yang dikirim hanya atlet senior. Atlet juniornya belum matang. Kata Tulus, sejak diseriusi kepengurusannya yang dulunya masih di bawah naungan Departemen Kesehatan dan Kehutanan tahun 1996, tim Softball Papua mulai ada perhatian dengan adanya kelengkapan fasilitas. Saat ini sudah di bawah KONI, ia berharap ada perhatian khusus bagi tim Softball Papua. Soalnya, bakat alami yang dimiliki putra-putri Papua luar biasa, tinggal sedikit polesan dari sang kreatornya. Oleh karena itu, untuk pembinaan atlet Softball ini ke depan, memang perlu perhatian untuk fasilitas atau sarana prasarana. Tidak hanya lapangan softball saja, tetapi peralatan dan prasarana lainnya yang mendukung sangat diperlukan. Selain itu untuk pembinaan atlet sendiri, ke depan diharapkan ada pelatih nasional yang bisa menanggani tim softball Papua sehingga lebih matang serta menjadi salah satu kebanggaan yang dicintai masyarakat Papua. Tulus mengakui sebelum menghadapi pertandingan, serta mengasah kemampuan atlet, diadakan Training centre (TC) di Jawa atau di Kalimantan karena lapangan di sana memiliki standar, sekaligus ada lawan tanding. ”Kebanggaan kami Softball Papua selalu mengirim atlet ke Timnas dua kali berturut-turut dan target kami setidaknya bisa mempertahankan peringkat.” Ujar Tulus. (Jon/CR 7)