Sabtu, 03 Oktober 2009

Antrian Minyak, Namun Tak Kebagian

Jatah minyak tanah yang diberikan hanya cukup memasak dalam satu minggu, sisanya cari di luar dengan harga tinggi,”

Sejak pagi Ibu wetipo, warga di jln. Pegunungan Sagu, Dok V mengantri minyak tanah. Tangannya menenteng 12 jergen berukuran 5 liter sudah terikat dijejerkan dengan antrian jergen warga lainnya. Ibu wetipo menjelaskan ada dua kepala keluarga di rumahnya, sehingga jatah minyak tanah ada 60 liter. Jam sudah menunjukan angka 9.30, namun minyak tanah tak kunjung dibagikan, alasannya agen belum menyalurkan kepangkalan. Meskipun minyak tanah tak kunjung tiba, namun warga tetap setia menunggu, sambil memakan pinang yang mereka bawa. “Kalau tidak ditunggu nanti tidak kebagian,” Antrian jergen minyak tanah tidak bisa dihindarkan, warga mulai berdatangan memasukan jergen sesuai urutan antrian yang ada. “Satu keluarga mendapat jatah 30 liter, itupun tidak sampai satu bulan, hanya satu minggu saja mas,” keluh Wetipo kepada Foja. Ibu Wetipo berharap pada agen supaya ada penambahan stock minyak tanah, sehingga tidak membeli diluar dengan harga yang mahal. Pemandangan serupa terjadi di Jalan Bambu Kuning, Polimak. Sekumpulan ibu- ibu dan anak gadis antri ditengah panas teriknya sengatan matahari. Ada yang menggunakan payung untuk berlindung dengan posisi tetap dalam antrian demi mendapatkan 10 liter minyak tanah yang menjadi jatah setiap keluarga. Ibu Regina Bano misalnya, mengaku dengan jatah 10 liter per kepala keluarga tidak mencukupi untuk memasak. Apalagi dalam satu bulan hanya dua kali mendapat jatah minyak tanah. “Saya berharap ada penambahan pangkalan lagi di sini, karena ada yang sampai tidak dapat,” kata Regina. Keluhan Wetipo dan Regina, mewakili masyarakat yang ada di kota Jayapura bagaimana sulitnya mendapatkan se-liter minyak tanah. Minyak tanah menjadi barang yang langka, jikalaupun ada harganya melambung tinggi. “Minyak tanah untuk jatah setiap bulan tidak cukup, bahkan pernah tidak kebagian. Untuk memenuhinya kita beli diluar dengan harga sangat mahal, satu jergen berukuran 5 liter bisa mencapai Rp 50ribu,” kata wetipo. Menurut Ibu Majib, pemilik Pangkalan minyak tanah, di Dok V, setiap kali pengisian di pangkalantnya hanya mendapat jatah 5 drum atau 1000 liter. Keluhan warga sudah disampaikan kepada pihak agen untuk menambah pasokan setiap bulannya, namun jawaban dari agen selalu tidak bisa. Akibat stok minyak yang kurang membuat warga emosi dengan pelampiasannya ke pihak pangkalan. Ibu Majib mengakui kadang kala mendapat perlakuan kasar dari warga yang tidak kebagian jatah minyak tanah, akibat terlambat datang. “Stok kita di RT ini hanya 1000 liter mas jadi kadang- kadang ada warga yang tidak dapat, karena terlambat. Saya sudah berusaha minta supaya ditambah stoknya,” jelas Majib. Cara penyaluran minyak tanah di Pangkalan Ibu Majib tidak menggunakan karcis, tetapi berupa antrian, sehingga siapa yang terlambat akan tidak kebagian. Mengenai harga minyak tanah Di pangkalan ini per liternya Rp 3500 dengan harga dari agen Rp. 2.650. “Mengenai harga di pangkalan sudah pas, Cuma perlu penambahan pasokan lagi,” harap Wetipo. Menurut Drs. Paulus Y. Sumino,MM, OFS, berdasarkan alokasi minyak yang dilaporkan pihak Pertamina ke komisi B stok minyak cukup, namun masih adanya antrian minyak tanah membuat ketua Komisi B ini akan menanyakan langsung ke pihak Pertamina. Sumino mengakui sistim pendistribusian yang digunakan dari Pertamina sudah baik, menggunakan kartu dan daftar dengan jatah tertentu per kepala keluarga dalam setiap minggunya. “Sebetulnya tidak perlu adanya antrian,” Pihak Pertamina perlu pengawasan dan pengontrolan untuk mewaspadai penyalahgunaan pendistribusian sehingga tidak terjadi kekurangan jatah di masyarakat. Komisi B belum mengetahui adanya kekurangan secara pasti ditempat- tempat lain akibat adanya penyimpangan dari agen ke pengencer, namun ketua komisi B ini akan mengecek kepada Pertamina mengapa sampai terjadi antrian dan sampai ada yang tidak kebagian. Paulus meresponi keinginan masyarakat untuk dilakukan penambahan stok minyak tanah agak sulit, namun jika ada bukti penambahan jumlah penduduk baru maka bisa dipertimbangkan dan dilakukan. Mengenai harga sendiri sudah ada patokan menggunakan satuan harga tertinggi, sehingga tidak akan memberatkan warga masyarakat apalagi minyak tanah masih bersubsidi. “Saya menghimbau bagi agen atau pengencer supaya tidak melakukan penyimpangan, sebaiknya ada karcis dibagi sebagai jatah bagi setiap kepala keluarga, sehingga pembagian merata dan mendapat semuanya,” kata Paulus. Selain itu pasokan minyak tanah dan gas di Papua agak sulit karena tempat yang jauh, apalagi pendistribusiannya kedaerah- daerah pedalaman membutuhkan transportasi yang sangat mahal, sehingga berdampak pada kenaikan harga minyak tanah tersebut. “Saat ini belum ada stasiun pengisian gas di Papua karena belum ada investor yang berani,” kata paulus. (Jon/CR 7)

PEREMPUAN GESIT

“Di negara lain persiapan lebih matang dan waktu latihan lebih panjang, beda dengan kita”

Papua sebagai gudang sepabola berbakat nasional memang tidak terbantahkan. Tidak hanya disektor putra tentunya, tapi juga di sektor putri . Anak pegunungan yang dikenal dengan julukan ‘badai dari pegunungan’ memiliki segudang talenta. Keahlian dalam mengolah si kulit bundar menjadi tontonan yang mengasyikan tidak hanya disukai oleh kaum pria saja, namun wanita pun sangat mencintai permainan ini. Salah satunya adalah Regina Womi. Regina mencintai dan hobi bermain bola sejak masih kecil. Walaupun dirinya seorang wanita, tidak membatasi dirinya bermain seperti layaknya laki- laki. Tubuhnya yang mungil tak menjadi hambatan, malahan menjadi seorang yang cekatan dan gesit dalam bermain bola.

Mudah tersenyum, ramah dan cepat beradaptasi dengan teman- teman membuat ia disukai oleh teman- temannya. Gadis yang memiliki nomor punggung 11 ini, sudah menjelajah beberapa negara melalui hobi sepakbolanya, bahkan dipercaya memperkuat tim nasional Indonesia bermain di Vietnam. “Saya bangga dari Papua banyak yang mewakili,” kata Regina. Menurut Regina orangtuanya sangat mendukung aktifitasnya, selama tidak menganggu proses pendidikan. Regina bersyukur karena kariernya di dunia persepakbolaan berjalan dengan baik dengan pendidikan yang sedang dilakoninya. “Selama ada pertandingan diluar, pihak sekolah memberi dispensasi,” kata Regina. Regina memulai kariernya di dunia persepakbolaan saat kelas enam SD, di mana pada saat itu memperkuat tim persikimo, Yahukimo tahun 2006. Dalam laganya yang pertama tidak membuahkan hasil, namun ia tetap semangat. “Waktu itu tidak dapat juara, karena baru tampil,” kata anak dari pasangan Steven Womi dan Lina Kogaya ini. Tahun 2007 kembali tetap membela Tim Persikimo, namun kesempatan untuk bertanding diluar daerah agak sulit akibat, akhirnya Regina memutuskan untuk mengasah kemampuan ketempat lain. Pada tahun 2008 Regina memperkuat Tim Persitoli, Tolikara, hasilnya mendapat juara 2 sekaligus mendapat kesempatan bermain ke Hongkong. “Waktu main di Hongkong kita dapat juara 3,” jelas Regina yang masih duduk di kelas I SMA Wamena ini. Pada tahun 2009 diadakan sepakbola wanita ‘Galanita’ Papua memperebutkan piala bergilir Gubernur Cup, sekaligus seleksi tim yang akan dikirim ketingkat nasional pada tahun 2010 mendatang. Kembali tim Persitoli menjadi Jawara, sekaligus mewakili tim dari Papua ketingkat nasional. Jikalau berhasil ditingkat nasional, maka akan kembali berlaga ditingkat internasional, mewakili Indonesia. Gadis yang menempuh pendidikan di SMA Negari I Wamena ini, berharap bisa lebih baik lagi dan bisa mempertahankan gelar yang ada, apalagi saat ini dipercayai sebagai kapten kesebelasan. Regina mengaku selama menjadi kapten kadang- kadang emosi timbul, itu semuanya dilakukan demi sebuah kemenangan dan ia terus memberi motivasi dan semangat kepada teman- temannya. Satuhal yang tidak bisa dilupakan Regina, di mana pada tahun 2007 mewakili Timnas Indonesia bermain ke Vietnam. Ini suatu kebanggaan tersendiri. “Saat itu perwakilan dari Papua ada 10 orang dan dari Jakarta 8 orang,” bangga Regina. Penilaian Regina pemain negara lain lebih bagus karena latihan yang dilakukan lebih matang, dan waktu persiapan lebih, tidak seperti di daerah kita Indonesia, latihan pada saat mau bertanding saja, jadi tidak maksimal.

Gadis pegunungan yang bercita- cita menjadi dokter ini, sudah mulai menabung untuk membiayai sekolahnya dan selalu rendah diri. “Saya akan terus berjuang membela tim dan akan mengharumkan nama Papua, terlebih saya ingin ke Hongkong lagi karena pemandangannya indah sekali,” kata pengemar Christian Ronaldo ini. (Jon/CR 7)

Pengesahan APBD 2010 Prematur?

Belanja publik dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Provinsi Papua tahun 2010 masih menggunakan draft plafon tahun 2009. Di sisi lain, pembahasan terhadap RAPBD dinilai dikerjakan sangat terburu-buru sehingga kualitas anggaran yang disahkan bisa sangat buruk. Menurut Direktur ICS Papua, Budi Setyanto, SH, dilihat dari segi proses pembahasan dan pengesahan APBD jelas tidak memenuhi asas- asas atau prinsip- prinsip keterbukaan, akuntibilitas dan transparansi. Seharusnya pembahasan APBD dilakukan dengan penuh kehati- hatian, karena menyangkut masalah alokasi anggaran yang memang harus melihat aspek prioritas, mana yang harus diutamakan. “Saya pikir pasti ada yang melatarbelakangi keputusan ini, apalagi masa jabatan mereka (DPRP) akan habis,“ ungkap Budi. Budi mempertanyakan mengapa pengesahan begitu cepat, sehingga Pemprov dan DPRP terkesan bermain- main. Tidak seharusnya keputusan dilakukan secara meraton. Menurut Budi tidak ada ketentuan khusus DPRP yang lama harus mengesahkan APBD tahun 2010, tetapi DPRP yang akan dilantik mempunyai kesempatan juga. “2010 masih beberapa bulan lagi, mengapa pengesahan terburu- buru, sepertinya dipaksakan?,” tanya Budi. Ketua DPRP Provinsi Papua Drs. John Ibo, MM, menjelaskan mekanisme dan prosedur pengesahan APBD sudah ditempuh secara bertanggungjawab dan secara konstitusi. DPRP sudah melaksanakan amanat konstitusi dan fraksi menerima keputusan itu sebagai tanda di akhir pengabdian mereka untuk memberikan bobot kepada APBD. John Ibo berharap gubernur akan mampu mengoperasikan APBD sesuai keinginan rakyat Papua, demi tercapainya Papua yang aman, maju dan sejahtera. Dengan APBD tahun 2010 sebesar Rp 5,2 triliun akan memberikan dampak kepada masyarakat Papua karena ada infrastruktur yang cukup besar dan semua fraksi berharap sepenuhnya kepada gubernur melaksanakan dengan baik. “DPRP pada posisinya oleh amanat undang- undang telah menetapkan APBD tahun 2010 tugas operasinya ada ditangan gubernur,” kata John.

Hal senada diungkapkan ketua Komisi B DPRP, Drs. Paulus Y. Sumino, MM, OFS, pengesahan ABPD memakan waktu relatif singkat dengan beberapa alasan Pertama, tahun ini adalah tahun pergantian anggota, di mana selambat- lambatnya awal Oktober sudah selesai dan pada bulan Oktober siklus anggaran APBD sudah disahkan, karena anggota lama tinggal 15%. Kedua, plafon anggaran hanya menggunakan plafon anggaran tahun 2009 jadi tidak semua total pendapatan 2010 dianggarkan untuk saat ini, sehingga anggota yang baru mempunyai kesempatan untuk mempergunakan dan melakukan perbaikan menggunakan anggaran perubahan. ketiga, meringankan pekerjaan anggota baru yang akan dilantik dalam periode baru, sehingga anggota yang lama harus menuntaskan pekerjaannya dengan baik. “Semuanya anggota baru yang belum memiliki pengalaman dan dikuatirkan pada saat pembahasan dan pengesahan terjadi kesulitan, makanya kita langsung mengesahkan demi meringankan pekerjaan mereka, walaupun terkesan maraton,” kata Paulus. Menurut Paulus, Anggaran APBD naik kira- kira 14- 15%. Walaupun APBD disahkan pada tahun 2009 (15/8), namun penggunaan anggarannya tetap di awal tahun 2010. Ketua komisi B ini mengakui bahwa pembahasan APBD ini tidak serinci dan kritis seperti tahun- tahun yang lalu, namun mekanisme sudah dilakukan melalui KUA (Kebijakan Umum Anggaran- red) sudah dibahas dengan baik, kemudian PPAS (Penetapan plafon anggaran sementara- red) sudah dibahas sejak beberapa bulan lalu dan PPA sudah dibahas, sehingga penetapannya terlihat terburu- buru, namun sebenarnya tidak seperti itu. “Sebenarnya tidak tergesa- gesa karena sudah dibahas sejak Mei- Juli tahun 2009,“ jelasnya. Menurut Paulus pertanggungjawaban anggaran tahun 2009 dijamin tidak akan ada penyimpangan karena siklus anggarannya sudah jelas, walaupun masih ada dana yang belum dicairkan, akan diusahakan dipercepat, tetapi tergantung dari pusat , karena cair atau tidaknya dana tergantung pusat dan sifatnya triwulan. “Pada bulan Desember hasil sidang dan pengesahan APBD akan diverifikasi oleh mendagri,“ kata Paulus. Berbeda dengan Paulus, Budi tetap menilai pengesahan APBD perlu adanya juridical review, jikalau ada masyarakat yang menolak anggaran yang ada dan kepentingan belanja publik termasuk besar, namun itu hanya manipulasi saja, karena hanya untuk kepentingan birokrasi dan aparatur, apalagi waktu pembahasan APBD yang sangat terburu-buru membuat kualitas anggaran dikhawatirkan tidak lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Artinya kalau seperti ini mengalami kemunduran bukan kemajuan,” tandas Budi. (Jon/ CR 7)

HARGA MELONJAK, TRADISI DI HARI BESAR

Tangannya yang renta memegang dua Kantong kresek warna hitam berukuran lima kilogram, berjalan menyusuri lorong pasar PTC yang sempit. Langkah kakinya terhenti di salah satu lapak penjual sembako. Keningnya mengerut ketika mengetahui harga barang yang dipegangnya. “Saya kaget harga barang sekarang hampir naik semua,” kata Asnah.

Asnah sekian dari pembeli atau konsumen yang mengaku kaget mengenai harga barang menjelang bulan Ramadhan (Bulan puasa bagi umat muslim- red) yang mulai meroket, padahal puasa masih beberapa minggu lagi. Asnah mengaku kelabakan membagi keuangannya, di mana budget yang ada kurang, dan harus ada penambahan akibat harga melambung. “Ya mau bagaimana lagi kita membutuhkannya,” kata Asnah. Dari pantauan Foja di pasar Youtefa dan PTC hampir semua barang naik secara signifikan. Apalagi harga telur meningkat tajam. H. Asmad, pedagang telur di pasar PTC, mengaku akibat stok telur berkurang sedangkan kebutuhan meningkat mengakibatkan harga meningkat, dari harga Rp 36ribu menjadi Rp 39ribu sampai Rp 40ribu. “Walaupun harga meningkat, namun keuntungan saya Cuma 100 rupiah perbutir,” aku H. Asmad. Tidak hanya di pasar PTC harga dirasakan naik. Azizah, seorang pedagang sembako di pasar Youtefa, Abepura- Jayapura mengaku semua harga barang rata- rata naik, kenaikan bervariasi sesuai persediaan barang. “Harga telur naik, karena stock sedikit, akibat kapal yang biasa membawa telur harus di dok,” kata Azizah. Harga telur naik naik mencapai Rp 5ribu dari harga yang semula hanya Rp 33ribu/rak dijual dengan harga Rp 39- 40ribu/rak. Tidak hanya itu harga minyak goreng mulai merangkak walaupun hanya beberapa rupiah, namun sudah ada gejala naik. Bahkan kebutuhan penyedap rasa seperti bawang putih naik, dari harga Rp 10ribu menjadi Rp 12ribu. “Pelangan mengaku kaget dengan harga yang ada, namun mau bilang apa lagi,” kata Azizah. Meskipun harga rempah- rempah mulai ada kenaikan, namun harga beras tetap stabil. Berdasarkan pengalamannya selama bulan puasa dan natal tahun lalu, Ando Najib, pedagang beras di pasar Youtefa menilai stok beras cukup dan harga tetap stabil, walaupun ada kenaikan, namun tidak sampai mencekik pelangan. “Kalau beras paling- paling naiknya hanya 100- 250 rupiah saja,” kata Ando.

Menyikapi persediaan barang dan pemantauan harga dipasaran sehingga ada keberimbangan bagi konsumen, Disperindag Provinsi Papua melalui Kasubdin Perdagangan, Ir. Kardin M. Simanjuntak, MMT, mengatakan akan mengadakan pertemuan bersama stake holder satu minggu sebelum puasa, bahkan Gubernur akan diundang untuk meninjau kondisi pasar. Dalam kesempatan tersebut sekalian menghimbau para pedagang, untuk berdagang secara wajar dan menertibkan barang- barang yang kadarluarsa sebelum puasa dan Natal. “Ini sudah dilakukan semacam kegiatan rutin,” kata Kardin.

Selain itu Kardin juga menyampaikan Instruksi dari departemen perdagangan membentuk posko Bapok (Bahan makanan pokok- red). Informasi ini sudah disampaikan keseluruh kabupaten kota agar di bentuk Posko Bapok. Tujuan Posko Bapok sebagai tempat pengaduan konsumen, apabila terjadi hal- hal yang tidak lazim di pasar, misalnya ada harga barang yang tidak wajar dan stok barang yang kurang, sehingga cepat untuk ditanggulangi.

Dari pantauan Disperindag memang sudah ada kebutuhan pokok yang naik, karena ditempat asalnya sudah naik. bahan- bahan yang saat ini mulai naik seperti bumbu- bumbu, akibat faktor musim, misalnya di daerah produsen hujan akan menganggu transportasi. Kalau gula di daerah jawa timur memang sudah naik Rp 100- Rp 200 per kilo, otomatis di daerah pemasarannya pasti akan ada kenaikan. Bahkan Pengalaman tahun lalu memasuki bulan Ramadhan harga telur memang naik signifikan akibat suplai berkurang, apalagi kebutuhan meningkat di bulan puasa. Sedangkan ada pedagang tidak mau mendatangkan telur karena ada retribusi dua kali, dari Karantina dan pertanian. “Retribusinya satu telur dikenakan 10 rupiah, ini sudah termasuk besar dalam perdagangan, otomatis akan mempengaruhi harga penjualan,” kata Kardin. Apalagi saat ini harga telur betul- betul dirasakan oleh masyarakat. kardin menghimbau para pedagang untuk menjalankan usahanya secara wajar dan tidak memanfaatkan situasi. Selain itu Kardin mengaku persediaan stok beras cukup selama menjelang puasa dengan harga yang stabil, seperti beras Bulog tahun- tahun sebelumnya stabil, kecuali beras yang bermerk yang didatangkan dari luar ada perbedaan harga. “Saya pikir dalam batas- batas yang terkendali” tegas Kardin (Jon)

VETERAN SRIKANDI, MENJADI GURU SUKARELA

“Tugas kami mencerdaskan anak Papua supaya segera sederajat dengan anak- anak provinsi lain, itu motto kami”

Di kompleks jalan masuk Sekolah Tinggi Filsafat Timur (STFT) Padang Bulan, tampak sebuah rumah sederhana namun tertata apik. Tembok rumah bercat putih dengan kursi yang tertata rapi. Suasana di dalam rumah begitu tenang dan nyaman ditambah angin sepoi- sepoi masuk lewat teralis pagar membuat siapa saja yang bertamu akan merasa tenang. Tampak sebuah papan nama tertulis nama pemilik rumah Drs. Tarmidja.

Dra. Siti Roekayah, M. Si, seorang yang penuh kasih, berjiwa pemberani dan bertekad baja. Walaupun pada saat ini sudah berusia 72 tahun, namun masih terlihat dari raut wajahnya sebagai sosok yang punya pemikiran jenius. Setelah lulus Sekolah Guru Agama (SGA) di Jawa Timur, ibu Siti bekerja menjadi guru SD Tulung Rejo, Jawa Timur. Setelah satu tahun bekerja akhirnya diangkat menjadi Wakil Kepala Sekolah. Tahun 1959- 1960 ibu Siti pindah ke SD Pesangrahan dan pada tahun 1961- 1962 pindah lagi ke SD Mojorejo menjadi kepala sekolah.

Meskipun sudah mempunyai jabatan yang tinggi, Ibu Siti keluar dari jabatannya dan mengikuti kata hatinya untuk berjuang ke Papua. Tepat di bulan Oktober 1962 Ibu beranak satu ini masuk Sukarelawati, masuk Batalion Bro Wijoyo, karena semuanya perempuan maka disebut Batalion Srikandi. Selama dua bulan dilatih di kompi 3 mendapat pendidikan menembak, bongkar pasang senjata, ilmu medan dan ilmu tempur. “Itu dulu, sekarang tidak lagi,” kata suami dari Prof. Drs. Tarmidja K, M. A ini.

Tepat 29 November 1962 Ibu Siti diberangkatkan ke Papua bersama 5 orang temannya yang lulus seleksi, di tambah 2 orang dari Bandung dan Ambon. Penerbangan mereka sudah istimewa menggunakan pesawat Elektra (Sejenis pesawat Jet- red). “Saya bersama 5 orang teman dan Sujarwo Tuntontoro tidak boleh dipindahkan kemana- mana untuk memberi kekuatan basis Jayapura, khususnya pendidikan,” kata Ibu yang dilahirkan di Kediri, 29 November 1937

Ibu Siti bersama 5 orang temannya, selama satu minggu belum dapat makan karena Pemerintah Indonesia belum siap dan Pemerintah UNTEA tidak mau menanggung biaya hidup mereka. “Setiap kali mau makan kami harus ke gunung Ifar, Sentani diangkut pakai mobil truck. makan bergabung dengan Tentara, setiap hari seperti itu dari Jayapura ke Sentani,” kenang Lulusan S2 UI ini.

1 Januari 1963 Ibu Siti diangkat menjadi guru SD 3 Abepura, pada saat itu muridnya dari anak- anak Knil dan pegawai Belanda (Orang asli, pegawainya belanda- red), orang asli Papua tidak boleh sekolah. Setelah menjadi pegawai UNTEA, Ibu Siti mengontrak rumah seorang Pendeta yang bernama Leborang dari Sanger, akhirnya rumah itu diberinama Wisma Srikandi. Setelah serah terima dari Menir (guru dari Belanda- red), Ibu Siti langsung mendidik anak- anak asli melalui hal- hal yang sederhana, seperti mencuci tangan dan mencuci kaki. Selain mengajar SD, ibu Siti mengajar mama- mama untuk menjahit dan memasak serta mengajar buta aksara. “Setiap hari saya membawa kain untuk membersihkan ingus- ingus mereka. Saya melakukan ini dengan sukacita, karena saya berjiwa pendidik,” kata Majelis Gereja GKI Sion ini.

Bulan November 1964, Ibu Siti menikah dengan Prof. Drs. Tarmidja K, M.A, sekaligus pembaptisan dirinya sebagai pengakuan sebagai pengikut Kristus. Dan mereka dikarunai seorang putra Insinyur Pertanian. “Sejak lama saya sudah lama mengikuti ibadah tetapi baru saat itu bisa dibaptis,” kata ibu Siti yang semua teman- temannya sudah meninggal semua. (Jon)

HARGA BARANG MAHAL DI PAPUA

Di tengah hiruk- pikuknya pasar Youtefa, mama Marsiana bertahan dengan keuntungan Rp 50ribu. Di terminal Youtefa ia mengelar dagangannya berupa buah pinang dan sirih. Sambil menunggu pembeli tangannya yang terampil merajut sebuah tas noken (tas khas Papua-red). Ibu beranak 4 ini mengaku pendapatannya hanya bisa untuk uang taksi dan sisanya untuk membeli beras. “Harga barang sekarang mahal seperti beras saja Rp 5ribu/kg, saya hanya bisa membeli satu kilo saja, untuk dua kali masak,” kata Marsiana.

Mama Marsiana sekian dari Mama- mama di Papua yang mengeluh mengenai harga sembako meningkat. Menurut Manager Mega Supermarket Abepura- Jayapura, Harga sembako di Papua tidak berbeda jauh dengan harga di Pulau Jawa. Misalnya Sembako perbandingan harga berkisar antara 10-20%, kecuali barang- barang elektronik perbedaannya 100- 150% itu wajar karena resikonya juga banyak. “Sebenarnya kita tidak bisa bermain harga, karena antara supermarket mulai bersaing. Yang bisa bermain harga adalah pengusaha di luar supermarket,“ katanya. Penjaga Elektronik Centeral mengakui perbandingan harga di Papua dengan Provinsi lain berbeda mencapai dua kali lipat. “Bedanya dua kali lipat mas,“ kata Agung.

Ketua DPRP komisi B saat ditemui Foja diruang kerjanya menilai tingginya harga barang di Papua, secara objektif disebabkan setiap barang didatangkan dari luar, setelah datang di Papua barang tersebut sudah dibebani biaya transportasi yang cukup tinggi. Sistim pergudangan di Papua masih belum bagus, masih biaya tinggi. Hal ini disebabkan keamanan di gudang. Harga barang di Papua berbeda antara Kota Jayapura dan pedalaman karena biaya transportasi dan faktor lainnya adalah di Papua terlalu jauh mengikuti hukum pasar, sedangkan Pemerintah belum memiliki sistim kontrol terhadap harga barang. “Untuk mengontrol harga kita harus memiliki badan usaha holding company yang bisa mengontrol harga barang. Pemerintah bisa intervensi untuk ikut mendatangkan barang- barang sehingga bisa dijual dengan harga yang layak kepada rakyat dan sudah ada program badan usaha bidang penerbangan untuk mengurangi biaya transportasi udara yang begitu mahal disebut Papua Gracia, tetapi masih ada hambatan,“ kata Sumino.

Menurut Rayar Habel, General Manager PT. Pelindo IV (Persero) cabang Jayapura, salah satu faktor penghambat dan tingginya harga barang diakibatkan kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Jayapura terganggu akibat dari luas pelabuhan yang semakin sempit sedangkan jumlah kontainer yang siap dibongkar sudah menunggu. Apalagi Papua memiliki 27 kota pemekaran, sedangkan pelabuhan hanya satu, hal ini sangat menganggu kita dan pihak pengusaha. “Sarana pendukung seperti dermaga dan lapangan penumpukan kontainer terbatas, belum lagi kalau kapal putih (Kapal Penumpang-red) bersandar, otomatis kapal barang harus menyingkir dahulu, ini menambah ongkos lagi bagi mereka, sehingga berpengaruh di harga barang,” jelasnya.

Menurut Disperindag Provinsi melalui Kepala seksi perdagangan dalam negeri, Ayub Marbo, S. IP, menilai Provinsi Papua 95% bergantung dari produk wilayah lain akibat tidak adanya produksi yang terjadi di Papua. Dan dilihat dari letak geogarafis sangat jauh sehingga wajar harga barang berbeda dari pulau lain. “Harga jual di Papua tidak mungkin sama dengan di pulau Jawa, tetapi setiap hari kami selalu memantau harga barang, jikalau ada yang bermain- main dengan harga barang maka kita akan panggil pengusaha atau pedagang tersebut,” kata Marbo.

Menanggapi harga yang melambung sehingga mencekik rakyat kecil, DR. Ferdinan Risamasu, SE, M.SC, A.gr, pengamat ekonomi Uncen mengatakan di Papua hanya sektor bisnis yang bergerak hanya dalam bentuk jasa konstruksi saja, sehingga 90% bergantung dari pulau lain, seperti Jawa, Surabaya dan Ujung Pandang.

Rendahnya tingkat produksi membuat harga barang meningkat. Kalau kita mau harga murah di Papua harus ada peningkatan kesejahteraan masyarakat, iklim bisnis yang kondusif, seperti kepemilikan tanah yang selalu bermasalah dan terbatasnya energi listrik. Apalagi pada saat ini lembaga perlindungan konsumen seperti YLKI belum ada. “Tidak ada fungsi kontrol dan tidak ada kajian- kajian tertentu dari pemerintah,” kata Risamasu

Kalau Papua mau mempersiapkan produksi maka semua hal harus dilakukan seperti bahan baku, tenaga kerja, mesin, energi, kepastian hukum, keamanan yang kondusif dan pemalangan yang tidak pernah terselesaikan. “Kita tidak berani bermain disektor riil,” kata Risamasu (Jon)

PENJAGA ANAK-ANAK

“Saat anak- anak masih tertidur, saya harus meninggalkan mereka. Hatiku tak tega, namun mau bagaimana lagi,”

Rumah sederhana yang terletak di Polimak dekat jalan raya Entrop- Jayapura ini tertata apik. Tampak perempuan paruh baya sedang asyik menimang buah hatinya. Tangannya yang lembut memberi ketenangan dan kehangatan bagi sang bayi, yang sedang terlelap tidur dalam dekapan sang ibu.

Ferdinanda Wugadje, yang biasa disapa Bu Nanda, sudah tak asing lagi bagi siswa- siswi maupun para guru Sekolah Kalam Kudus. Ibu Nanda yang kesehariannya bekerja sebagai cleaning service di sekolah tersebut selalu terlihat ceria. Ia menekuni pekerjaan ini sejak tahun 2004 hingga tahun 2007.

Berkat keuletan dan kesetiaannya dalam melakukan pekerjaan kecil ini, akhirnya pada tahun 2007 ia dipercaya untuk menjadi Satpam. “Pada saat itu, pihak sekolah membutuhkan seorang Satpam perempuan dan menyuruh saya mencarinya. Dengan memberanikan diri saya menawarkan diri supaya diangkat menjadi Satpam, akhirnya koordinator sekolah mengatakan supaya saya menanyakan persetujuan suami dan suami saya setuju,” kata suami dari Wetsy Pihahei ini.

Wanita, kelahiran Sorong, 3 November 1973 ini mengaku bersyukur mendapat pekerjaan tetap, walaupun sebagai security, namun bagi perempuan beranak tiga ini, pekerjaan itu sangat berarti demi meringankan beban hidup dan membantu suami. “Sekarang mencari pekerjaan susah, apalagi saya hanya tamatan SMP mau kerja apa,” kata ibu yang bercita- cita menjadi Polwan ini.

Menjalani pekerjaan sebagai security memang membutuhkan kesabaran dan kewaspadaan. Apalagi Nanda dituntut untuk menjaga anak- anak TK (Taman Kanak- kanak) dan mengawasi orangtua yang mengantar atau menjemput, demi keamanan. “Anak TK perlu diawasi karena belum tau apa- apa, kalau SD atau SMP nga masalah,” kata ibu yang hobi main volly ini.

Disiplin, tepat waktu dan bertanggungjawab itulah prinsip yang diterapkan Nanda dalam menjalankan tugasnya sebagai security. Walaupun konsekuensi dalam melaksanakan tugasnya kadang- kadang harus beradu mulut dengan orangtua murid yang meminta gerbang pintu dibuka pada padahal sudah terlambat. Namun ia tetap konsisten pada aturan sekolah yang ada. “Kalau jam 7.30 gerbang sudah tutup, namun ada orangtua murid berusaha memaksa masuk, supaya anaknya dapat mengikuti proses belajar,” kata Nanda

“Ada juga anak- anak yang terlambat melapor keorangtuanya, dan orangtuanya itu ngamuk ke kita,” kata Nanda. Tantangan itulah yang membentuk Nanda tetap bersemangat menjalankan tugasnya. Apalagi Ia melakukan tugasnya mulai pukul 06.00 sampai 14.00. Ia merasa enjoy dengan pekerjaan ini, walaupun buah hatinya yang baru dilahirkan beberapa pekan lalu harus ditinggalkan. “Saya tidak seperti ibu- ibu yang lain, yang pagi- pagi menyiapkan makanan untuk anak- anaknya, namun setiap pagi saya harus berangkat, pada saat anak- anak masih tertidur,” kata ibu security ini. (Jon)

Guru Agama Siap Menjadi Cermin

“Guru- guru yang mengikuti pelatihan ini hendaknya menjadi pelatih atau pembina dalam memberikan pembinaan iman rohani bagi anak- anak didik, sebab anak adalah penerus cita- cita pembangun bangsa dan negara,”

Membangun wahana pola pikir dan mendongkrak prestasi anak didik merupakan kerinduan setiap guru. Apalagi sebagai guru agama bimbingan dan pembinaan mental, dan didikan takut akan Tuhan pelajaran yang paling penting guna mencegah siswa terhindar perbuatan- perbuatan yang negatif.

Dinas Sosial Kota Jayapura bekerjasama dengan Kantor Departemen Agama Kota Jayapura melakukan pelatihan tenaga guru agama Kota Jayapura. Pelatihan yang dilakukan selama tiga hari, bertempat di Hotel Mahkota, Jalan Hamadi Tanjung- Jayapura ini dihadiri oleh perwakilan guru agama mulai dari guru SD, guru SMP, guru SMA/SMK, serta guru Madrasah, Tsanawiyah dan Aliyah.

Guru agama yang mengikuti pelatihan ini, merupakan guru yang sudah lulus seleksi dan memenuhi syarat. Tenaga guru agama yang mengikuti pelatihan ini berjumlah 100 orang, dengan Perwakilan guru agama Kristen 43 orang, Katholik 20 orang, Islam 35 orang, Hindu 1 orang dan Budha 1 orang. Adapun narasumber dalam kegiatan tersebut melibatkan Walikota Jayapura, Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Kantor Departemen Agama Kota, Dinas Kesehatan Kota, Yayasan Bless Papua Ministry, Bappeda Kota, Dinas Sosial Kota dan Polresta Kota Jayapura.

“Para guru agama yang mengikuti pelatihan ini diharapkan sudah memiliki iman rohani yang kuat dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas sehingga dalam mendidik, membina, memotivasi dan membimbing anak- anak didik akan berhasil dan sukses menjadi pemimpin di negeri ini dan yang paling utama mereka takut akan Tuhan,” kata Walikota M.R Kambu, dalam sambutnya.

Adapun materi pengarahan yang diberikan dalam pelatihan tenaga guru agama tersebut antaralain: pembangunan bidang agama; kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP); peran guru agama dalam membina kesehatan anak; perencanaan pembangunan bidang agama; peran guru agama dalam kamtibmas; pentingnya pendidikan agama bagi anak didik; Penyandang masalah kesejahteraan sosial dan potensi sumber kesejahteraan sosial; peran guru dalam pembinaan kamtibmas serta pembangunan bidang kesejahteraan sosial.

Menurut Drs. Petrus Way, selaku ketua panitia mengatakan, sasaran utama dalam kegiatan ini adalah pembekalan wawasan ilmu pengetahuan supaya mereka (Guru Agama) lebih dalam membimbing, membina dan mengarahkan anak- anak, supaya takut akan Tuhan. “Pembinaan- pembinaan harus dilakukan sehingga seorang anak akan terhindar dari hal- hal yang buruk. Ini tugas kita bersama, tidak hanya guru agama saja,” kata Way.

Selaku ketua Yayasan Bless Papua Ministry Pdt. Elisa Sutimin, yang dilibatkan dalam kegiatan ini mengatakan Mereka memang perlu dibekali karena mereka perlu mengipartasi gaya hidup yang berubah. “Mereka seorang guru, mau tidak mau mereka harus menjadi teladan. mereka melarang murid jangan merokok, sedangkan mereka merokok. Ya tidak bisa seperti itu. Makanya, satu teladan jauh lebih baik dari pada seribu kata- kata,” kata Sutimin.

Gayus Manupapami, SE, Kadis Sosial Kota Jayapura berharap dengan adanya kegiatan ini bisa meningkatkan kualitas keimanan masing- masing guru agama dan dapat menjadi panutan bagi muridnya. “Tanpa akhlak yang baik maka bangsa ini akan runtuh. Maka pergunakanlah kesempatan ini menjadi wahana diskusi dan sarana komunikasi, untuk meningkatkan profesionalisme sebagai seorang guru agama sehingga terjadi perubahan kearah yang lebih baik lagi,” kata Gayus

Seluruh peserta menyambut baik adanya kegiatan ini, dimana mereka mendapat wawasan baru dan berkomitmen untuk menerapkan ilmu agama yang mereka dapatkan kepada anak didik mereka. “Pelatihan ini bagus dan menambah wawasan kami dan kami berharap kedepan kalau diadakan kegiatan seperti ini lagi harus dikategorikan, SD tersendiri, SMP tersendiri, dan SMA tersendiri supaya lebih bagus. Kalau bisa waktunya pun ditambah,” kata Martinus Anggalingi, guru agama Kristen SD Pantai Enggros ini. (Jon)

‘RUMAH AGAPE’ UNIT PENGEMBANGAN KELUARGA PAPUA

Unit pengembangan keluarga Papua merupakan kelanjutan proyek pertama yang dilakukan Sr. Mariecen Warson (Almarhuma- red). Pada tahun 1992 Yayasan Putri Kerahiman Papua didirikan dengan tujuan membantu para janda dalam bidang kesehatan dan ekonomi. Tidak hanya itu, tahun 2003 program pengembangan diperluas dan diperbarui seperti bidang sosial- ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Program ini diselenggarakan di rumah Agape Rumah di jalan Khembili I, Sentani. Dengan sasaran membantu keluarga yang terlantar, khususnya nona- nona, ibu- ibu, termasuk janda, anak usia dini dan anak sekolah SD melalui kursus dan pembinaan antara lain: Memberi pembinaan baca tulis bagi orang dewasa, memasak dan bakar roti, menjahit, menyulam, tatarias, pengolahan kopi, pembinaan anak- anak usia dini (PAUD), Bahasa Inggris untuk SD kelas 3- 6 dan bantuan medis pertama (firt aid help).

“Rumah Agape” artinya rumah dimana diberikan cinta kasih seperti yang Tuhan Yesus Kristus pilih pada perjamuan terakhir dengan para rasul. Selain itu Pondok Agape menjual ‘Kopi Agape’ jenis Arabika dalam bentuk goreng atau giling yang merupakan hasil pekerjaan ibu- ibu tersebut. “Pengembangan tetap jalan, walaupun banyak hambatan,” kata Rosa Millan de Vertegen. (Jon)

BUDIDAYA IKAN, OMZET MENGGIURKAN

“Budidaya ikan keramba di Danau sentani

membuat omzet kotor saya setiap bulan 20 juta,”

Danau Sentani, yang terletak di kab. Jayapura, Papua sungguh mengagumkan. Sepanjang jalan mata akan dipuaskan dengan pemandangan Danau Sentani yang seperti tak akan ada habis- habisnya. Danau yang memiliki Luas 3,63 hektar dengan ketinggian 75 meter di atas permukaan air laut ini dikelilingi bukit- bukit nan indah. Kekayaan Danau yang luar biasa, berbagai jenis ikan air tawar bisa ditemukan antara lain: Ikan mujair, ikan mas, ikan gabus dan ikan hiu gergaji yang langka, yang dapat ditemukan hanya di Danau Sentani.

Di kampung Nendali, Sentani Salah satu kelompok yang mendapat bantuan dari dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi. Kelompok Smirna yang diketuai Wempi Wally, sejak tahun 2006 hingga kini mereka terus mengembangkan keramba yang ada. “Kita mendapat bantuan pas awalnya saja. Sekarang tidak lagi, kita hanya mengembangkan dan memutar hasil panen yang ada,” kata Wally.

Saat ini kelompok Smirna mengelola empat petak keramba. Dalam satu petak keramba dapat menghasilkan enam juta dengan harga Rp 25ribu/kg. Wally mengaku ada kesulitan dalam pendistribusian hasil panennya, karena selama ini pelangan tetapnya hanya satu orang saja, selain itu warga setempat. “Saat ini pemasarannya agak lambat, karena belum ada bos atau rumah makan yang langsung memborongnya. Jadi lakunya secara bertahap,” kata Wally

Wally menambahkan hambatan yang terjadi harga pakan ikan yang begitu tinggi, sehingga perkembangan ikan terhambat. Ia berharap kepada Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi, supaya bisa menyediakan pakan ikan yang terjangkau. “Kalau bisa Dinas Perikanan Provinsi dapat menyediakan pakan yang lebih murah, karena sekarang harganya Rp 300ribu,” kata Wally

Selama ini sudah tiga kali memanen ikan yang ada. Hasil panen sudah dirasakan oleh Wally bersama kelompoknya. Bahkan selesai panen sudah disisihkan uang yang akan digunakan untuk keperluan kelompok seperti, uang pakan ikan, bibit baru, dan disetor ke Dinas untuk angsuran dana awal yang diberikan sebesar Rp 30 juta dalam satu kelompok berbentuk perlengkapan keramba bukan uang tunai. “Kita siapkan sembilan juta untuk pakan, dua juta untuk bibit dan angsuran ke dinas perikanan empat juta,” kata Wally

***

Selain dikelola secara berkelompok, bisnis keramba ikan nila ini juga dikelola secara perorangan. Salah satunya Stewart Rompas yang biasa dipanggil Stev, mulai mengeluti pengembangan budidaya ikan keramba sejak tahun 2005 di Kampung Asei kecil. Pada saat itu ia masih menyewa tempat, karena belum memiliki lahan. “Saya sewa 40 petak keramba dengan sewa pertahun Rp 25juta, dan bibit pertama kalinya 50ribu ekor,” kata pemuda 25 tahun ini.

Dengan modal sendiri sebesar Rp 150juta akhirnya tahun 2009 Stev sudah bisa membuat 40 keramba dengan ukuran 4x4 meter. Jadi saat ini Stev memiliki 160 m² dengan bibit awal 110.000 ekor. “Keramba ini murni dana sendiri, belum ada bantuan dari dinas perikanan dan keramba ini baru lima bulan, puji Tuhan sekarang sudah menghasilkan,” kata pemuda ini

Untuk pembibitan Stev memiliki lahan di Koya dan pembesaran dilakukan di keramba dengan alasan untuk mendapatkan citra rasa yang lebih enak. “Pengembangan ikan dikolam tidak enak karena berbau tanah, sedangkan di keramba citrarasanya beda,” katanya

Untuk menghemat pengeluaran, Stev tidak lagi membeli pakan ikan, tetapi ia dapat menjaring ikan di danau Sentani diolah kemudian dijadikan pakan ikan buatannya sendiri. “Dulu saya beli pakan ikan satu karung dengan berat 30 kg, harganya Rp 250ribu, tapi sekarang biar menghemat saya menjaring di danau saja,” kata Stev.

Saat ini yang sedang dikembangkan di keramba Stev ada ikan mujair dan sedikit ikan mas. Dengan usia panen 4-5 bulan dengan satu kali panen pendapatan kotor mencapai Rp 20juta. “Masih banyak tanggungan, karena saya juga mempekerjakan dua orang untuk membantu saya,” katanya.

Hasil panen didistribusikan dirumah makan dan penjualan ditempat, dengan harga Rp 35ribu/kg. “Hari ini saya dapat menjual 130kg,” katanya

Tantangan

Melakukan pekerjaan pasti ada resiko yang harus dihadapi. Selama ini yang dialami Stev tantangannya adalah keamanan, tingkat kematian stress dan kematian ikan dan pengalaman yang minim. “Tantangannya banyak, tetapi dengan tantangan itu saya bisa. Biar berkembang saya mencari refrensi dari buku dan bertanya kepada orang yang berpengalaman,” kata Stev

“Memang harus ada harga yang dibayar kalau kita ingin maju. Selama kita melakukan pendekatan dengan mereka dengan baik maka mereka akan menghargai kita juga. Saya membuat pekerjaan ini bukan semata- mata untuk mencari uang, tetapi bagaimana bisa menjadi berkat,” kata Sarjana Teknik ini.

Rio, seorang pekerja yang membantu Stev, kerjanya sehari- hari memberi makan ikan dan sortir (pemilihan ikan yang besar dan kecil- red). “Pekerjaan saya hanya memberi makan ikan dan sortir (pemisahan ikan kecil dan besar- red),” kata Rio.

Menurut Ir. Iman Djuniawal, Kepala Seksi Budidaya dan Pengembangan Produksi Provinsi Papua, ada 700 keramba saat ini yang sedang dikembangkan oleh masyarakat disekitar Danau Sentani. Dimana dalam satu kelompok terdiri 10 orang dengan pertimbangan hubungan kekerabatan atau keluarga terdekat.

Untuk mengembangkan dan membantu kelompok usaha budidaya ikan keramba di Danau Sentani, Dinas perikanan dan kelautan Provinsi mengembangkan program Propekan (program peningkatan produksi ikan), yang berorentasi eksport. Program Proksimas (program peningkatan produksi masyarakat), orentasinya untuk pemenuhan gizi dan kebutuhan konsumsi ikan masyarakat dan program Prolinda (program perlindungan sumberdaya ikan), artinya disamping berbudidaya ikan, tetap menjaga kelestarian lingkungan. Dana yang dikucurkan dalam pengembangan ikan air tawar ini sebesar 1 Milyar. “Kita tidak memberi bantuan dlam bentuk uang tunai, tetapi dalam bentuk perlengkapan keramba, seperti memberi dua buah jaring keramba, satu penampung pembibitan, 1000 ekor benih dan beberapa karung pakan ikan,” kata Iman. (Jon)

PERSIDAFON JUNIOR MENGEJAR PRESTASI

“Sejak terjadi perubahan manajemen dan terbuka bagi siapa saja yang penting bisa mengharumkan nama Persidafon”

Perkembangan sepakbola di tanah Papua belakangan ini memperlihatkan kemajuan pesat. Beberapa klub yang bermarkas di pulau paling timur Indonesia ini mampu menunjukkan penampilan dan mampu bersaing dengan klub-klub dari daerah lain. Keberhasilan ini tidak lepas dari pembinaan berjenjang yang diterapkan club yang dipadukan dengan talenta-talenta berbakat putra asli daerah ini. Salah satu klub yang saat ini sudah dikelola secara profesional yaitu Persatuan Sepakbola Indonesia Dafonsoro (Persidafon Dafonsoro) yang bermarkas di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Disamping tim senior yang saat ini sudah berkompetisi di Divisi Utama Liga Indonesia, Persidafon juga melakukan pembinaan terhadap pemain berdasarkan kelompok umur. Saat ini kelompok umur dibina adalah Kelompok Umur 21 dan Kelompok Umur 18. Menurut Manejer Persidafon untuk Kelompok Umur 18 Alfius Demena, SE.MM tim ini terbentuk sejak tahun 1997. Pemain pemain yang tergabung dalam Kelompok Umur 18 tahun sebagian besar merupakan hasil seleksi yang dilakukan oleh tim pemantau, yang menjaring bakat-bakat potensial dari daerah ini. Bebrapa persyaratan yang mesti dipenuhi oleh pemain seperti kondisi fisik yang sehat berdasarkan rekomendasi dari dokter, usia yang belum melewati 18 tahun berdasarkan ijazah dan KTP, serta surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian. “Sebagian besar merupakan pelajar tingkat SLTA, dan jika umurnya telah melewati 18 tahun maka pemain bersangkutan akan masuk di tim Persidafon kelompok umur 21 tahun,” ungkap Demena.

Walaupun baru terbentuk, namun beberapa prestasi membanggakan sudah ditorehkan tim ini. Tahun 2008 Persidafon berhasil menjadi juara pertama turnamen Kapolda Cup, setelah mengandaskan PSBS Biak di final. Bahkan gelar tersebut di raih setelah di babak sebelumnya menghempaskan tim kuat yang juga juara bertahan Persipura Jayapura. Tahun 2009 Persidafon kembali tampil di turnamen yang sama, dengan status juara bertahan, Persidafon bergabung di grup A bersama Persipura Jayapura, Persiwa Wamena, dan Persinab Nabire.

Setelah lolos dari babak penyisihan grup di bawah Persipura, Persidafon melenggang ke semifinal namun kali ini perlawanan sengit dari tim lawan menyebabkan James Yoku dan kawan-kawan harus puas menempati peringkat ketiga setelah dikalahkan tim kuda hitam Perseru Serui. “Persiapan kami mengikuti turnamen ini hanya satu minggu, undangan panitia yang terlambat masuk. Di semifinal kami harus mengakui keunggulan tim Perseru Serui. Meskipun gagal jadi yang terbaik namun kami tetap bangga. Tahun depan kami pasti lebih baik,” kata pelatih Edward Katunggung. Menurut Edward anak asuhnya sangat bersemangat dalam berlatih sehingga kualitas mereka cepat terasah, apalagi jika akan menghadapi sebuah pertandingan. Prestasi diatas juga diimbangi dengan fasilitas yang disediakan oleh pengelola club. ”Kesejahteraan dan fasilitas para pemain selalu diutamakan untuk memompa semangat anak”, kata Demena.

Tidak tanggung- tanggung target kompetisi yang akan diadakan bulan Oktober mendatang pihak manajemen menganggarkan Rp 2 Millir untuk kebutuhan tim untuk usia 18 dan usia 21, melalui Rencana Anggaran Kegiatan Diaspora. Dana tersebut digunakan untuk uang saku pemain dan biaya operasional baik penginapan selama di mess dan untuk pelatih. Semangat para pemain juga semakin terlecut setelah Stadion Barnabas Youwe, Sentani akan digunakan dalam kompetisi bulan Oktober mendatang. Stadion yang luasnya 5 hektar ini akan dipastikan menjadi stadion terbaik di Papua.

Rencananya stadion ini akan diresmikan dengan mengadakan pertandingan persahabatan antara lima tim asal Papua yang akan berlaga di Indonesia Super League (ISL) dan divisi utama kompetisi PSSI, yaitu Persipura Jayapura, Persiwa Wamena, Persiram Raja Ampat, Perseman Manokwari, dan Persidafon sendiri sebagai tuan rumah. Sementara itu Alfius Damena yang juga menjabat kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jayapura sudah merencanakan berbagai program untuk memajukan olahraga di wilayahnya, seperti pembangunan sarana di empat daerah pembangunan yaitu Depapre, Demta, Genyem, dan Lere, dengan memperhatikan setiap potensi di daerah tersebut.

Kini sebuah jalan telah diretas dengan sistim pembinaan yang berjenjang dan melalui dukungan dari berbagai pihak termasuk sang kepala daerah Habel Melkias Suwae, S.Sos yang selalu memberikan spirit baik moral maupun materi, tim berjuluk Gabus Sentani ini siap menjelma dan menelurkan pemain dengan skill dan kemampuan mengolah si kulit bundar yang handal. (Jon)

FLU BABI, PENJUAL DAGING BABI MERUGI

Sejak ditemukannya virus H1N1 (Flu Babi- red) yang terjadi di Meksiko dan Amerika membuat warga tersentak panik. Virus mematikan ini telah menelan korban 89 orang per 28 Mei 2009 dan hingga kini belum diketahui obat yang dapat menangkal peredaran virus ini.

Virus ini membuat masyarakat Indonesia waspada, namun Departemen Kesehatan (Depkes) RI telah mengeluarkan statemen bahwa virus berjenis H1N1 ini belum merambah Indonesia. Meskipun belum ditemukan adanya virus H1N1 di Indonesia, tetap ada efeknya bagi penjual daging babi di Kota Jayapura.

Menurut Nia Mindipko, penjual daging babi di Pasar Yotefa mengatakan, sebelumnya ia dapat menjual satu ekor dalam satu hari, namun sekarang hanya dua paha saja. “Sekarang pembeli sepi, gara- gara ada isu flu babi jadi orang ragu- ragu untuk membeli,” kata ibu yang sudah 4 tahun berjualan daging babi ini.

Nia menambahkan sebelum adanya flu babi ia dapat mengantongi penghasilan Rp 1-2 juta dalam satu hari, dengan harga Rp 75ribu/kg. Namun sekarang penghasilan sedikit dan harga daging babi turun menjadi Rp 60-70ribu. “Dulu harga Rp 75ribu sudah tidak bisa ditawar- tawar lagi, namun sekarang kalau orang tawar ya kita kasi, yang penting tidak sampai dibawah Rp 50ribu,” ujar ibu yang berasal dari Merauke ini.

Hal senada diungkapkan oleh Yusuf mandilang yang berjualan daging babi dipasar PTC (Papua Trade Center- red), ia mengalami kerugian. “Biasanya saya dapat menjual satu ekor satu hari, namun sekarang satu ekor dapat dijual dalam empat hari,” katanya.

Berbeda dengan penjual daging babi, pemilik Rumah Makan Amurang didepan terminal lama, Jayapura, mengatakan pendapatannya tetap stabil walaupun isu flu babi sedang hangat. “Pendapatan tidak ada penurunan, tetap stabil,” kata Boy. Hal senada diungkapkan pemilik Rumah Makan Cinta Segar, di waena tidak ada perubahan dan penurunan dalam pendapatan. “Pendapatan tidak menurun. Satu porsi kita jual Rp 30ribu,” kata Yuli.

Kepala kesehatan hewan (Keswan-red) Provinsi Papua, drh. Indarto Sudarsono, mengatakan setelah diteliti virus Flu Babi yang terjadi sebenarnya tidak ada, itu Virus jenis H1N1, bukan flu babi. “Itu virus H1N1, bukan virus Flu Babi, akhirnya yang dikambinghitamkan babi. Itu hanya domain orang,” terang Indarto.

Meskipun peredaran Virus H1N1 belum ditemukan di Indonesia, namun Keswan Provinsi Papua telah melakukan pencegahan dan himbauan bagi masyarakat. “Kami sudah menghimbau masyarakat supaya ternak babinya dikandangkan, meskipun Virus H1N1 belum nampak, namun kita perlu waspada,” ujar Indarto.

Kepala dinas kesehatan Provinsi Papua dr. Bagus Sukaswara mengatakan, masyarakat Papua perlu waspada terhadap Virus H1N1. “Termasuk kita di Papua semua diminta untuk bersikap waspada terhadap H1N1,” kata Bagus.

Bagus berharap supaya tidak menggunakan kata flu babi sebab asalnya bukan dari babi, tetapi ini jenis virus H1N1. “Jadi tolong jangan pakai kata Flu Babi agar tidak menimbulkan konotasi lain dimasyarakat. Karena sudah disampaikan bahwa ini bukan Flu Babi, tetapi H1N1. Penularannya dari manusia kepada manusia bukan dari babi,” kata bagus.

Adapun penularan Virus H1N1 melalui udara dan kontak langsung dengan penderita dengan masa inkubasi 3-4 hari. Dan Umumnya penyakit ini mirip dengan influenza dengan gejala klinis, demam, batuk, pilek, letih lesu, nyeri tenggorokan, sesak napas dan mungkin disertai mual, muntah dan diare. Untuk mencegah Virus jenis H1N1, masyarakat wajib berperilaku hidup sehat, menutup hidung dikala batuk/ bersin, mencuci tangan dengan sabun usai beraktifitas dan segera kontrol bila mengalami klinis flu. (Jon)

Bergelut Dengan Sarung Tinju

“Air mataku menetes ketika membuka amplop,

isinya jauh dari harapan”

Suhu udara agak panas, terlihat beberapa orang bapak sedang duduk-duduk sambil bercerita ria dengan bertelanjang dada. Begitulah pemandangan di deretan kos- kosan di jalan mana lagi, Polimak Asri.

Penghuni salah satu kos- kosan ini adalah Sofia Worumi, yang biasa disapa Fia oleh teman-temannya.

Wanita kelahiran Jayapura, 8 November 1986 ini bercita- cita jadi atletik, namun seiring dengan berjalannya waktu akhirnya ia menjadi seorang petinju. Atas ajakan sang suami. “Sudah ko ikut saya latihan tinju saja,” kata Fia meniru kata suaminya.

Meniti karir

setelah menyelesaikan pendidikan SMAnya, Fia langsung terjun kedunia tinju. Ia dilatih langsung oleh Apolos Kurni, selama 2 tahun, bertempat di Entrop. Pertandingan pertama kali dilakoninya pada tahun 2007, dikelas bulu 57 putri, dalam Kejurda (Kejuaraan daerah- red) memperebutkan Piala Gubernur, namun dibabak penyisihan kalah. “Saat itu masih pemula, jadi asal pukul saja,” kata anak dari Esau Worumi dan marta Waembu ini.

Pada tahun 2008, Fia bergabung di Sasana Pemancar Boxing Club (PBC- red) dilatih langsung oleh Hengky Jarisetouw. Disini Fia diasah dan dipersiapkan untuk menghadapi pertandingan dikelas ringan 60 kg senior Pada Open tournament tinju amatir Andarias Jarisetouw cup. Akhirnya dapat juara dua. “Saya senang karena saya bisa mencapai juara dua,” kata ibu yang hobi bernyanyi ini.

Bulan November, Fia Mewakili kab. Jayapura dikelas 57 kg pada kejuaraan tinju Pangdam Cup 2008 di Fak- fak. Dalam pertandingan memperoleh juara tiga. “Saya bangga bisa mewakili Kab. Jayapura dan mengharumkan nama Jayapura,” katanya.

Minim perhatian

Fia dan Suaminya sama- sama petinju. Beberapa kali mengikuti perlombaan dan memenangkannya. Bahkan suaminya Oktovianus Jouwe selalu juara satu dalam pertarungan, bahkan sampai masuk pada Pra PON. Kedua Atlet ini sudah mengharumkan nama Kab. Jayapura. Namun sungguh ironis perhatian pemerintah terhadap para atlet tidak ada. “Pas mereka butuh, mereka panggil, namun setelah selesai pertandingan kita dibuang seperti sampah. Apalagi kita hanya menerima uang pas habis pertandingan saja. Waktu itu saya juara 2, dari PBC memberi 1.5 juta, namun dari ketua Pencab hanya 750ribu. saya sampai mau menangis, kita sudah berjuang tetapi hanya dihargai segitu,” kata Fia

Untuk mencukupi kebutuhan sehari- hari dan kebutuhan anaknya Imanuel Jouwe yang berusia 5 tahun, Fia mengojek di Pangkalan ojek Mana lagi, Polimak Asri, sedangkan suaminya menjadi buruh di pelabuhan. “Saya dan suami sudah memasukan lamaran kerja ke dinas- dinas, bahkan kemarin ada CPNS dibuka, kami memasukan lamaran kebidang atletik, namun lamaran kami ditolak mentah- mentah. Katanya mereka hanya membutuhkan yang juara satu saja. Sudah melakukan pendekatan kepejabat- pejabat namun hanya janji- janji manis yang didapatkan. Saya dan suami hanya butuh pekerjaan, tidak lebih dari itu. Jadi security juga nga apa- apa,” kata Fia berharap. (Jon)

PENTAHBISAN GEDUNG GEREJA GKI BETLEHEM RSUD DOK II JAYAPURA

Minggu, 14/6 merupakan hari penuh sukacita bagi Jemaat GKI Betlehem RSUD Dok II Jayapura. Dimana, Pembangunan gereja yang memakan waktu 444 (Empat tahun, empat bulan dan empat hari- red), akhirnya selesai. Gedung gereja langsung diresmikan oleh Walikota Jayapura, Drs. M.R Kambu, M.Si.

Acara peresmian gedung gereja yang baru ini, dirangkai dengan acara ucapan syukur atas bertambahnya usia M.R Kambu yang ke-61 sekaligus ucapan syukur atas suksesnya Tim Persipura menjadi Jawara ISL (Indonesia super league- red) tahun ini. Dalam sambutnya Drs. Moses Timbalaw (Ketua pembangunan gereja- red) menyampaikan terima kasih atas partisipasi jemaat dan mengajak jemaat bersama- sama menjaga dan merawat bangunan yang ada serta menekankan agar lingkungan gereja bebas dari ludah pinang dan miras. “ Mari kita menjaga bangunan ini, supaya tetap terjaga. Saya berharap lingkungan gedung gereja ini bebas dari ludah pinang dan miras,” kata Moses.

Pdt. W. Itaar, S.Th menyampaikan,“Pekerjaan pembangunan rumah Tuhan ini memang sudah selesai, tetapi biarlah dari dalamnya terpancar kemuliaan Tuhan lewat pekerjaan pelayanan kita yang tak pernah akan usai sampai Tuhan datang kembali,” kata Itaar mengakhiri ibadah perayaan. (Jon)

Perahu Kalkote, Transportasi Alternatif

Festival Danau Sentani (FDS), yang berlangsung dari tanggal 19 hingga 23 Juni menampilkan sejumlah karya, dari sejumlah peserta, baik yang bernuansa budaya, seperti hasil pertanian, makanan khas Papua, tarian, ukiran, kerajinan tangan, maupun batik Papua sebagai komoditi baru daerah ini, hingga inovasi baru dari kalangan akademisi.

Salah satu yang paling menarik perhatian pengunjung adalah kreatifitas mahasiswa Teknik Mesin, Universitas Cenderawasih, berupa perahu yang memanfaatkan sepeda motor sebagai mesin penggeraknya.

“Berawal dari keinginan untuk ikut berpartisipasi di FDS. Mereka (Mahasiswa-red), mulai berfikir untuk membuat sebuah karya, yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat pulau. Kami melihat kesulitan masyarakat di seberang pulau, terutama di daerah kawasan danau Sentani, dimana pada saat mereka mau bepergian ke pasar atau menyeberang, memakan waktu lama, karena masih harus menunggu, angkutan perahu yang terbatas jumlahnya. Jadi sebenarnya ini adalah ide tiba-tiba dari mahasiswa kata Ir. Harry A. Hussein, sang dosen.

Perahu ini merupakan teknologi tepat guna, dengan mengadopsi teknologi Wing surfing,” kata Harry. Bahan yang dipergunakan untuk membuat perahu ini cukup sederhana, yaitu mempergunakan kayu, triplek dan fiberglass. “Bahan material yang ada kita maksimalkan, cuma ada beberapa material yang cukup mahal seperti fiberglass,” kata Dosen Mekanika Fluida Uncen ini. Menurut Harry, berdasarkan ujicoba yang telah dilakukan perahu ini mampu mengangkut beban hingga 500 kg.

Kelebihan perahu ini bisa digunakan di dua tempat yang berbeda. di sungai mesin sepeda motor dapat menjadi pengerak, sedangkan di darat motor yang menempel di perahu dilepas, dan motor tadi dapat digunakan. “Dengan motor model ini, aktifitas warga jauh lebih cepat. Jadi setelah mereka sampai diseberang, mereka tidak perlu menunggu taksi atau ojek, namun mereka langsung menggunakan motor yang dipasang di perahu tadi sebagai alat transportasi, bahkan dapat digunakan di laut. Jadi transportasi alternatif ini sangat menguntungkan penggunanya,” kata Harry.

Kelemahan dari perahu ini menurut salah seorang mahasiswa, yang ikut merancangnya adalah masalah kecepatan, yang tidak secepat perahu motor pada umumnya.

Proses Pembuatan

Perahu yang oleh Gubernur Papua Barnabas Suebu, SH, diberi nama Kalkote ini proses pembuatannya membutuhkan waktu satu bulan. “Perahu ini harganya 15 juta, tanpa mesin,” kata Harry. Buah karya ini diciptakan oleh mahasiswa jurusan Teknik Mesin D3, tahun ke dua atau semester empat. Awalnya pembuatan perahu ini melibatkan enam orang mahasiswa, namun dalam perjalananya mendapat apresiasi dari mahasiswa lainnya 15 orang. “Setelah melibatkan mahasiswa lainnya proses perampungannya hanya memerlukan waktu satu bulan, padahal pada saat itu mereka sedang ujian, bahkan karena terlalu antusias mereka kerja sampai jam 2 malam,” kata Harry.

“Kedepannya kami berharap mereka lebih semangat dalam berinovasi. Sehingga nantinya mereka akan keluar sebagai teknisi-teknisi handal. Kami dan dosen lainnya hanya memback- up mereka,” kata Harry. (Jon- Pat)

Kamis, 01 Oktober 2009

BERANI BERSAING DI DUNIA KERAJINAN ROTAN

Tanah Papua dikenal dengan sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Maka tidak salah dijuluki sebagai ‘Tanah yang diberkati’. Usaha bisnis terus mengeliat dan tampak persaingan disemua sektor usaha dengan memanfaatkan kekayaan SDA yang melimpah ruah.

Karman, pemilik Pengerajin Rotan Papua yang berada di Komplek hotel idaman entrop, sudah 10 tahun menekuni usaha ini. Tahun 1985 hijrah ke Jayapura untuk bekerja di saudara iparnya. Selama 4 tahun bekerja, hasil yang didapat ditabung, setelah merasa modal cukup serta melihat peluang pasar yang terbuka akhirnya berhenti dan membuka usaha sendiri.

Tahun 1989, bermodal dana awal Rp 15 juta, Karman membuka usaha sendiri di belakang mesjid raya, Jayapura. Tempat kontrakannya di sulap menjadi tempat usaha pengerajin Rotan. Pada saat itu Karman memiliki tiga karyawan, sehingga usahanyapun berjalan dengan lancar. “Usaha ini kita tekuni turun temurun,” kata bapak berdarah Gorontalo ini.

Merasa tempat sudah tidak memungkinkan akhirnya tahun 1992 pindah ke daerah entrop, tepatnya di tikungan gerbang Jaya asri. Di sinilah usahanya mulai bertambah maju, dan karyawan pun bertambah pula menjadi 10 orang.

Usaha yang digarap ini bahan bakunya bersumber dari alam Papua sendiri, seperti Rotan menjadi kebutuhan utama karena semua jenis kursi, ataupun produk lainnya menggunakan Rotan. Selain menjual kursi ada juga keranjang, simpai, dan rak tempat koran. Ada juga yang didatangkan dari Gorontalo, seperti kree, karena terbuat dari pelepah enau (Pohon aren- red).

Pengerajin Rotan Papua ini dipasarkan diseluruh Papua, baik itu Sarmi, Timika, manokwari, bahkan di Sarmi dibuka cabang untuk mempermudah produksinya. Harga satu set kursi bervariasi, tergantung kesulitannya, dengan nilai jual berkisar antara Rp1juta sampai Rp 7,5 juta, sehingga Karman dapat mengantongi keuntungan Rp 20 juta/bulan. Apalagi menjelang hari Natal dan Lebaran, merupakan musim ‘panen’ karena sangat dibutuhkan oleh konsumen, sehingga keuntungan ratusan juta. “Usaha ini sifatnya musiman,” jelas Karman.

Proses pembuatan

Kualitas dan tehnik pengolahan bahan baku sangat penting sehingga hasil produknya memuaskan hati konsumen. Untuk mendapatkan kualitas yang baik, Rotan yang ada harus di rebus terlebih dahulu sehingga lebih awet dan hasilnya putih dan mengkilat. Adapun prosesnya rotan direbus selama 2- 3 jam, air rebusan tersebut dicampur minyak tanah sebanyak 15 liter dengan jumlah rotan sekali rebus 150 batang. Setelah melalui proses pertama rotan direbus kembali selama satu jam sehingga meresap, setelah itu dijemur. Proses inilah yang membedakan produk ini lebih tahan lama dan kualitasnya lebih terjamin. “Semuanya demi kepuasan pelangan,” kata karman.

Selain menjaga kualitas produknya, kesejahteraan karyawan tidak dilupakan. Fasilitas disediakan seperti tempat tinggal, makan dan biaya kesehatan selama sakit ditanggung sepenuhnya. Landi, karyawan Pengerajin Rotan Papua yang dikontrak selama enam bulan ini, merasa betah dan nyaman dengan pekerjaan ini, apalagi fasilitas disediakan. “Kita tahunya kerja saja, karena makan minum sudah disediakan,” kata Landi bagian perancang kursi.

Pekerjaan membuat kursi yang terbuat dari rotan ini membutuhkan kesabaran, selain dikerjakan oleh tangan yang ahli, juga dibagi dalam bagian khusus, seperti bagian perancang, anyam, pengikat dan bagian pasang jok. Masing- masing pengerjanya punya bagian tersendiri.

Dari usaha ini pada tahun 2006 Karman bersama dua orang temannya dipercayakan untuk mewakili Papua ke pulau Jawa (Cirebon) untuk melakukan studi banding dibiayai langsung oleh KADIN Papua. Studi banding yang dihadiri oleh seluruh provinsi Indonesia tersebut memberi kontribusi dan wawasan baru bagi dirinya. “Saya mewakili dari pengerajin Rotan dan kedua teman mewakili pengerajin kayu dan pengerajin kulit dan yang jelas persaingan pasti ada, tetapi mutu tetap akan dipertahankan,” jelas bapak beranak enam ini. (Joni Harianto)

CERAHNYA BISNIS KOS- KOSAN

Tingginya permintaan hunian sewaan di Jayapura menjadi peluang usaha yang prospektif. Tak heran, harga sewaan diatur suka- suka

Kota Jayapura, merupakan pusat semua kegiatan. Mulai dari pelaku bisnis, ekonomi, tenaga kerja dan pendidikan dapat ditemukan dengan mudah. Karena itu, terjadilah penumpukan dan migrasi besar- besaran di pusat kota.

Kian bertambahnya jumlah jumlah penduduk di Kota Jayapura membuat tempat hunian sewaan menjadi pilihan utama yang diburu. Para pebisnis tempat tinggal tentu saja menangkap peluang ini Dengan membangun rumah kos- kosan. Bangunan yang berukuran 3x4 meter ini menjadi kebutuhan tidak hanya pelajar, tetapi juga pekerja bahkan yang berkeluarga sekalipun. Bangunan petak ini dapat dengan mudah ditemui sudut dan pusat Kota Jayapura. Tarif perbulannya tergantung dari fasilitas yang disediakan dan tempat yang strategis menjadi tolak ukur tarif, berkisar antara Rp 250ribu sampai Rp 500ribu.

H. Rajiman, pemilik kos di jln. Engros, Kali Acai- Abepura ini, yang ditemui Foja mengatakan, ia sudah menekuni bisnis kos- kosan dan membangun sejak tahun 2006 lalu. Saat ini ia sudah memiliki 34 buah kamar kos untuk disewakan dengan tarif Rp 350ribu/bulan. Rajiman hanya menyiapkan gedung dan kelancaran air menjadi perhatian utama demi kepuasan konsumen/penyewa. Dalam ruangan kosnya, terdapat ruang tamu dan kamar tidur. Ia memberlakukan aturan kepada penyewa hanya barang elektronik yang bisa dibawa, seperti televisi, dispenser, kipas angin dan strikaan. “Kalau komputer nga boleh, karena daya listrik tidak mampu,” jelas Rajiman.

Siapa sangka bapak beranak 7 ini bisa mengubah hidupnya, menjadi pengusaha kos- kosan. Awal mulanya Rajiman hanyalah seorang kuli bangunan dan istrinya penjual jamu keliling. Namun melihat peluang, akhirnya ia mendapat penghasilan yang cukup menakjubkan. Hasil dari bisnisnya itu dapat menyekolahkan anak- anaknya sampai keperguruan tinggi. “Saat ini pendapatan bersih Rp 8 juta/bulan”

Foja menemui Satrio, salah satu penyewa kos- kosan milik Rajiman. Setiap bulan ia harus menyisihkan uang hasil kerjanya untuk pembayaran kos Rp 350ribu/bulan. Satrio mengaku senang tinggal di kos tersebut karena air lancar dan keamanan juga terjamin. “Harga kos saya pikir sudah cukup ideal,” kata bapak beranak satu ini.

Menurut Drs. Benhur Tomi Mano, MM, Kepala Dinas Pendapatan Daerah, Kota Jayapura, kota Jayapura merupakan pusat menimba ilmu dan pusat dunia bisnis lainnya. Oleh sebab itu, kebutuhan tempat tinggal menjadi kebutuhan utama. Hal ini berdampak pada pembangunan kos- kosan yang menjamur. Bermain di bisnis kos- kosan memang peluang usaha yang menjanjikan. Harga kos tidak pernah turun, bahkan bisa naik setiap tahun.

Meski demikian, Mano mengakui, sampai saat ini belum ada Peraturan daerah khusus tentang rumah kos, karena draff desiq belum ada. Kendati belum ada peraturan yang mengatur, pengusaha kos- kosan diharapkan untuk mengurus surat perizinan yang disebut SITU (Surat ijin tempat usaha- red), dari surat ijin tersebut menjadi acuan untuk mendapatkan pemasukan pendapatan daerah. “Tetapi kita memberi surat ijin SITU, karena ada nilai ekonomisnya dan income bagi pemilik kos tersebut. Inikan sejenis usaha, seperti usaha kateringan juga yang ada untungnya,” jelas Mano.

Pendapatan daerah melalui kos- kosan bagi Kota Jayapura sangat signifikan, setiap tahun meningkat. Tahun 2008 saja over target Rp 8.567.009.117 milliar, tetapi hasilnya mencapai Rp 28.500 juta dengan realisasi Rp 37.067.009.117 dan tahun 2009 target Rp 35.435.500.000 dan relaisasi sampai 15 Juli Rp 20.196.813.667 miliar. “Sangat spektakuler, hasilnya per 15 Juli ini mencapai 56,99%,” bangga Mano.

Menurut Mano, keberhasilan yang didapat karena sistim yang digunakan, yaitu intenfikasi dan ekstenfikasi. Intenfikasi dilakukan melalui aturan- aturan yang sudah ada, yang sudah berlaku ditingkatkan lagi, sedangkan ekstenfikasi yaitu mencari metode baru. Selain itu pengawasan dan penertiban, baik secara interen dan eksteren, yaitu Pengawasan di lapangan dan di kantor. Ia bersyukur mengingat apa yang dilakukan selama ini selalu berhasil, seperti target perencanaan tahun 2005, target yang akan dicapai Rp 19 milliar dengan realisasi Rp 20 milliar, tahun 2006 target Rp 22 milliar dengan realisasi Rp 23 milliar dan 2007 target kota Rp 25 miliar dengan hasil yang dicapai Rp 28 milliar. Jadi pendapatan naik terus meskipun potensi di Jayapura tidak bertambah, tetapi surplusnya selalu meningkat. “Saat saya masuk (menjabat) pendapatan mengalami peningkatan dan terjadi surplus yang luarbiasa. Itu akibat dari Pengawasan dilapangan dan pengawasan dikantor secara baik,” kata Mano. (Joni Harianto)