Sabtu, 03 Oktober 2009

Antrian Minyak, Namun Tak Kebagian

Jatah minyak tanah yang diberikan hanya cukup memasak dalam satu minggu, sisanya cari di luar dengan harga tinggi,”

Sejak pagi Ibu wetipo, warga di jln. Pegunungan Sagu, Dok V mengantri minyak tanah. Tangannya menenteng 12 jergen berukuran 5 liter sudah terikat dijejerkan dengan antrian jergen warga lainnya. Ibu wetipo menjelaskan ada dua kepala keluarga di rumahnya, sehingga jatah minyak tanah ada 60 liter. Jam sudah menunjukan angka 9.30, namun minyak tanah tak kunjung dibagikan, alasannya agen belum menyalurkan kepangkalan. Meskipun minyak tanah tak kunjung tiba, namun warga tetap setia menunggu, sambil memakan pinang yang mereka bawa. “Kalau tidak ditunggu nanti tidak kebagian,” Antrian jergen minyak tanah tidak bisa dihindarkan, warga mulai berdatangan memasukan jergen sesuai urutan antrian yang ada. “Satu keluarga mendapat jatah 30 liter, itupun tidak sampai satu bulan, hanya satu minggu saja mas,” keluh Wetipo kepada Foja. Ibu Wetipo berharap pada agen supaya ada penambahan stock minyak tanah, sehingga tidak membeli diluar dengan harga yang mahal. Pemandangan serupa terjadi di Jalan Bambu Kuning, Polimak. Sekumpulan ibu- ibu dan anak gadis antri ditengah panas teriknya sengatan matahari. Ada yang menggunakan payung untuk berlindung dengan posisi tetap dalam antrian demi mendapatkan 10 liter minyak tanah yang menjadi jatah setiap keluarga. Ibu Regina Bano misalnya, mengaku dengan jatah 10 liter per kepala keluarga tidak mencukupi untuk memasak. Apalagi dalam satu bulan hanya dua kali mendapat jatah minyak tanah. “Saya berharap ada penambahan pangkalan lagi di sini, karena ada yang sampai tidak dapat,” kata Regina. Keluhan Wetipo dan Regina, mewakili masyarakat yang ada di kota Jayapura bagaimana sulitnya mendapatkan se-liter minyak tanah. Minyak tanah menjadi barang yang langka, jikalaupun ada harganya melambung tinggi. “Minyak tanah untuk jatah setiap bulan tidak cukup, bahkan pernah tidak kebagian. Untuk memenuhinya kita beli diluar dengan harga sangat mahal, satu jergen berukuran 5 liter bisa mencapai Rp 50ribu,” kata wetipo. Menurut Ibu Majib, pemilik Pangkalan minyak tanah, di Dok V, setiap kali pengisian di pangkalantnya hanya mendapat jatah 5 drum atau 1000 liter. Keluhan warga sudah disampaikan kepada pihak agen untuk menambah pasokan setiap bulannya, namun jawaban dari agen selalu tidak bisa. Akibat stok minyak yang kurang membuat warga emosi dengan pelampiasannya ke pihak pangkalan. Ibu Majib mengakui kadang kala mendapat perlakuan kasar dari warga yang tidak kebagian jatah minyak tanah, akibat terlambat datang. “Stok kita di RT ini hanya 1000 liter mas jadi kadang- kadang ada warga yang tidak dapat, karena terlambat. Saya sudah berusaha minta supaya ditambah stoknya,” jelas Majib. Cara penyaluran minyak tanah di Pangkalan Ibu Majib tidak menggunakan karcis, tetapi berupa antrian, sehingga siapa yang terlambat akan tidak kebagian. Mengenai harga minyak tanah Di pangkalan ini per liternya Rp 3500 dengan harga dari agen Rp. 2.650. “Mengenai harga di pangkalan sudah pas, Cuma perlu penambahan pasokan lagi,” harap Wetipo. Menurut Drs. Paulus Y. Sumino,MM, OFS, berdasarkan alokasi minyak yang dilaporkan pihak Pertamina ke komisi B stok minyak cukup, namun masih adanya antrian minyak tanah membuat ketua Komisi B ini akan menanyakan langsung ke pihak Pertamina. Sumino mengakui sistim pendistribusian yang digunakan dari Pertamina sudah baik, menggunakan kartu dan daftar dengan jatah tertentu per kepala keluarga dalam setiap minggunya. “Sebetulnya tidak perlu adanya antrian,” Pihak Pertamina perlu pengawasan dan pengontrolan untuk mewaspadai penyalahgunaan pendistribusian sehingga tidak terjadi kekurangan jatah di masyarakat. Komisi B belum mengetahui adanya kekurangan secara pasti ditempat- tempat lain akibat adanya penyimpangan dari agen ke pengencer, namun ketua komisi B ini akan mengecek kepada Pertamina mengapa sampai terjadi antrian dan sampai ada yang tidak kebagian. Paulus meresponi keinginan masyarakat untuk dilakukan penambahan stok minyak tanah agak sulit, namun jika ada bukti penambahan jumlah penduduk baru maka bisa dipertimbangkan dan dilakukan. Mengenai harga sendiri sudah ada patokan menggunakan satuan harga tertinggi, sehingga tidak akan memberatkan warga masyarakat apalagi minyak tanah masih bersubsidi. “Saya menghimbau bagi agen atau pengencer supaya tidak melakukan penyimpangan, sebaiknya ada karcis dibagi sebagai jatah bagi setiap kepala keluarga, sehingga pembagian merata dan mendapat semuanya,” kata Paulus. Selain itu pasokan minyak tanah dan gas di Papua agak sulit karena tempat yang jauh, apalagi pendistribusiannya kedaerah- daerah pedalaman membutuhkan transportasi yang sangat mahal, sehingga berdampak pada kenaikan harga minyak tanah tersebut. “Saat ini belum ada stasiun pengisian gas di Papua karena belum ada investor yang berani,” kata paulus. (Jon/CR 7)

PEREMPUAN GESIT

“Di negara lain persiapan lebih matang dan waktu latihan lebih panjang, beda dengan kita”

Papua sebagai gudang sepabola berbakat nasional memang tidak terbantahkan. Tidak hanya disektor putra tentunya, tapi juga di sektor putri . Anak pegunungan yang dikenal dengan julukan ‘badai dari pegunungan’ memiliki segudang talenta. Keahlian dalam mengolah si kulit bundar menjadi tontonan yang mengasyikan tidak hanya disukai oleh kaum pria saja, namun wanita pun sangat mencintai permainan ini. Salah satunya adalah Regina Womi. Regina mencintai dan hobi bermain bola sejak masih kecil. Walaupun dirinya seorang wanita, tidak membatasi dirinya bermain seperti layaknya laki- laki. Tubuhnya yang mungil tak menjadi hambatan, malahan menjadi seorang yang cekatan dan gesit dalam bermain bola.

Mudah tersenyum, ramah dan cepat beradaptasi dengan teman- teman membuat ia disukai oleh teman- temannya. Gadis yang memiliki nomor punggung 11 ini, sudah menjelajah beberapa negara melalui hobi sepakbolanya, bahkan dipercaya memperkuat tim nasional Indonesia bermain di Vietnam. “Saya bangga dari Papua banyak yang mewakili,” kata Regina. Menurut Regina orangtuanya sangat mendukung aktifitasnya, selama tidak menganggu proses pendidikan. Regina bersyukur karena kariernya di dunia persepakbolaan berjalan dengan baik dengan pendidikan yang sedang dilakoninya. “Selama ada pertandingan diluar, pihak sekolah memberi dispensasi,” kata Regina. Regina memulai kariernya di dunia persepakbolaan saat kelas enam SD, di mana pada saat itu memperkuat tim persikimo, Yahukimo tahun 2006. Dalam laganya yang pertama tidak membuahkan hasil, namun ia tetap semangat. “Waktu itu tidak dapat juara, karena baru tampil,” kata anak dari pasangan Steven Womi dan Lina Kogaya ini. Tahun 2007 kembali tetap membela Tim Persikimo, namun kesempatan untuk bertanding diluar daerah agak sulit akibat, akhirnya Regina memutuskan untuk mengasah kemampuan ketempat lain. Pada tahun 2008 Regina memperkuat Tim Persitoli, Tolikara, hasilnya mendapat juara 2 sekaligus mendapat kesempatan bermain ke Hongkong. “Waktu main di Hongkong kita dapat juara 3,” jelas Regina yang masih duduk di kelas I SMA Wamena ini. Pada tahun 2009 diadakan sepakbola wanita ‘Galanita’ Papua memperebutkan piala bergilir Gubernur Cup, sekaligus seleksi tim yang akan dikirim ketingkat nasional pada tahun 2010 mendatang. Kembali tim Persitoli menjadi Jawara, sekaligus mewakili tim dari Papua ketingkat nasional. Jikalau berhasil ditingkat nasional, maka akan kembali berlaga ditingkat internasional, mewakili Indonesia. Gadis yang menempuh pendidikan di SMA Negari I Wamena ini, berharap bisa lebih baik lagi dan bisa mempertahankan gelar yang ada, apalagi saat ini dipercayai sebagai kapten kesebelasan. Regina mengaku selama menjadi kapten kadang- kadang emosi timbul, itu semuanya dilakukan demi sebuah kemenangan dan ia terus memberi motivasi dan semangat kepada teman- temannya. Satuhal yang tidak bisa dilupakan Regina, di mana pada tahun 2007 mewakili Timnas Indonesia bermain ke Vietnam. Ini suatu kebanggaan tersendiri. “Saat itu perwakilan dari Papua ada 10 orang dan dari Jakarta 8 orang,” bangga Regina. Penilaian Regina pemain negara lain lebih bagus karena latihan yang dilakukan lebih matang, dan waktu persiapan lebih, tidak seperti di daerah kita Indonesia, latihan pada saat mau bertanding saja, jadi tidak maksimal.

Gadis pegunungan yang bercita- cita menjadi dokter ini, sudah mulai menabung untuk membiayai sekolahnya dan selalu rendah diri. “Saya akan terus berjuang membela tim dan akan mengharumkan nama Papua, terlebih saya ingin ke Hongkong lagi karena pemandangannya indah sekali,” kata pengemar Christian Ronaldo ini. (Jon/CR 7)

Pengesahan APBD 2010 Prematur?

Belanja publik dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Provinsi Papua tahun 2010 masih menggunakan draft plafon tahun 2009. Di sisi lain, pembahasan terhadap RAPBD dinilai dikerjakan sangat terburu-buru sehingga kualitas anggaran yang disahkan bisa sangat buruk. Menurut Direktur ICS Papua, Budi Setyanto, SH, dilihat dari segi proses pembahasan dan pengesahan APBD jelas tidak memenuhi asas- asas atau prinsip- prinsip keterbukaan, akuntibilitas dan transparansi. Seharusnya pembahasan APBD dilakukan dengan penuh kehati- hatian, karena menyangkut masalah alokasi anggaran yang memang harus melihat aspek prioritas, mana yang harus diutamakan. “Saya pikir pasti ada yang melatarbelakangi keputusan ini, apalagi masa jabatan mereka (DPRP) akan habis,“ ungkap Budi. Budi mempertanyakan mengapa pengesahan begitu cepat, sehingga Pemprov dan DPRP terkesan bermain- main. Tidak seharusnya keputusan dilakukan secara meraton. Menurut Budi tidak ada ketentuan khusus DPRP yang lama harus mengesahkan APBD tahun 2010, tetapi DPRP yang akan dilantik mempunyai kesempatan juga. “2010 masih beberapa bulan lagi, mengapa pengesahan terburu- buru, sepertinya dipaksakan?,” tanya Budi. Ketua DPRP Provinsi Papua Drs. John Ibo, MM, menjelaskan mekanisme dan prosedur pengesahan APBD sudah ditempuh secara bertanggungjawab dan secara konstitusi. DPRP sudah melaksanakan amanat konstitusi dan fraksi menerima keputusan itu sebagai tanda di akhir pengabdian mereka untuk memberikan bobot kepada APBD. John Ibo berharap gubernur akan mampu mengoperasikan APBD sesuai keinginan rakyat Papua, demi tercapainya Papua yang aman, maju dan sejahtera. Dengan APBD tahun 2010 sebesar Rp 5,2 triliun akan memberikan dampak kepada masyarakat Papua karena ada infrastruktur yang cukup besar dan semua fraksi berharap sepenuhnya kepada gubernur melaksanakan dengan baik. “DPRP pada posisinya oleh amanat undang- undang telah menetapkan APBD tahun 2010 tugas operasinya ada ditangan gubernur,” kata John.

Hal senada diungkapkan ketua Komisi B DPRP, Drs. Paulus Y. Sumino, MM, OFS, pengesahan ABPD memakan waktu relatif singkat dengan beberapa alasan Pertama, tahun ini adalah tahun pergantian anggota, di mana selambat- lambatnya awal Oktober sudah selesai dan pada bulan Oktober siklus anggaran APBD sudah disahkan, karena anggota lama tinggal 15%. Kedua, plafon anggaran hanya menggunakan plafon anggaran tahun 2009 jadi tidak semua total pendapatan 2010 dianggarkan untuk saat ini, sehingga anggota yang baru mempunyai kesempatan untuk mempergunakan dan melakukan perbaikan menggunakan anggaran perubahan. ketiga, meringankan pekerjaan anggota baru yang akan dilantik dalam periode baru, sehingga anggota yang lama harus menuntaskan pekerjaannya dengan baik. “Semuanya anggota baru yang belum memiliki pengalaman dan dikuatirkan pada saat pembahasan dan pengesahan terjadi kesulitan, makanya kita langsung mengesahkan demi meringankan pekerjaan mereka, walaupun terkesan maraton,” kata Paulus. Menurut Paulus, Anggaran APBD naik kira- kira 14- 15%. Walaupun APBD disahkan pada tahun 2009 (15/8), namun penggunaan anggarannya tetap di awal tahun 2010. Ketua komisi B ini mengakui bahwa pembahasan APBD ini tidak serinci dan kritis seperti tahun- tahun yang lalu, namun mekanisme sudah dilakukan melalui KUA (Kebijakan Umum Anggaran- red) sudah dibahas dengan baik, kemudian PPAS (Penetapan plafon anggaran sementara- red) sudah dibahas sejak beberapa bulan lalu dan PPA sudah dibahas, sehingga penetapannya terlihat terburu- buru, namun sebenarnya tidak seperti itu. “Sebenarnya tidak tergesa- gesa karena sudah dibahas sejak Mei- Juli tahun 2009,“ jelasnya. Menurut Paulus pertanggungjawaban anggaran tahun 2009 dijamin tidak akan ada penyimpangan karena siklus anggarannya sudah jelas, walaupun masih ada dana yang belum dicairkan, akan diusahakan dipercepat, tetapi tergantung dari pusat , karena cair atau tidaknya dana tergantung pusat dan sifatnya triwulan. “Pada bulan Desember hasil sidang dan pengesahan APBD akan diverifikasi oleh mendagri,“ kata Paulus. Berbeda dengan Paulus, Budi tetap menilai pengesahan APBD perlu adanya juridical review, jikalau ada masyarakat yang menolak anggaran yang ada dan kepentingan belanja publik termasuk besar, namun itu hanya manipulasi saja, karena hanya untuk kepentingan birokrasi dan aparatur, apalagi waktu pembahasan APBD yang sangat terburu-buru membuat kualitas anggaran dikhawatirkan tidak lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Artinya kalau seperti ini mengalami kemunduran bukan kemajuan,” tandas Budi. (Jon/ CR 7)

HARGA MELONJAK, TRADISI DI HARI BESAR

Tangannya yang renta memegang dua Kantong kresek warna hitam berukuran lima kilogram, berjalan menyusuri lorong pasar PTC yang sempit. Langkah kakinya terhenti di salah satu lapak penjual sembako. Keningnya mengerut ketika mengetahui harga barang yang dipegangnya. “Saya kaget harga barang sekarang hampir naik semua,” kata Asnah.

Asnah sekian dari pembeli atau konsumen yang mengaku kaget mengenai harga barang menjelang bulan Ramadhan (Bulan puasa bagi umat muslim- red) yang mulai meroket, padahal puasa masih beberapa minggu lagi. Asnah mengaku kelabakan membagi keuangannya, di mana budget yang ada kurang, dan harus ada penambahan akibat harga melambung. “Ya mau bagaimana lagi kita membutuhkannya,” kata Asnah. Dari pantauan Foja di pasar Youtefa dan PTC hampir semua barang naik secara signifikan. Apalagi harga telur meningkat tajam. H. Asmad, pedagang telur di pasar PTC, mengaku akibat stok telur berkurang sedangkan kebutuhan meningkat mengakibatkan harga meningkat, dari harga Rp 36ribu menjadi Rp 39ribu sampai Rp 40ribu. “Walaupun harga meningkat, namun keuntungan saya Cuma 100 rupiah perbutir,” aku H. Asmad. Tidak hanya di pasar PTC harga dirasakan naik. Azizah, seorang pedagang sembako di pasar Youtefa, Abepura- Jayapura mengaku semua harga barang rata- rata naik, kenaikan bervariasi sesuai persediaan barang. “Harga telur naik, karena stock sedikit, akibat kapal yang biasa membawa telur harus di dok,” kata Azizah. Harga telur naik naik mencapai Rp 5ribu dari harga yang semula hanya Rp 33ribu/rak dijual dengan harga Rp 39- 40ribu/rak. Tidak hanya itu harga minyak goreng mulai merangkak walaupun hanya beberapa rupiah, namun sudah ada gejala naik. Bahkan kebutuhan penyedap rasa seperti bawang putih naik, dari harga Rp 10ribu menjadi Rp 12ribu. “Pelangan mengaku kaget dengan harga yang ada, namun mau bilang apa lagi,” kata Azizah. Meskipun harga rempah- rempah mulai ada kenaikan, namun harga beras tetap stabil. Berdasarkan pengalamannya selama bulan puasa dan natal tahun lalu, Ando Najib, pedagang beras di pasar Youtefa menilai stok beras cukup dan harga tetap stabil, walaupun ada kenaikan, namun tidak sampai mencekik pelangan. “Kalau beras paling- paling naiknya hanya 100- 250 rupiah saja,” kata Ando.

Menyikapi persediaan barang dan pemantauan harga dipasaran sehingga ada keberimbangan bagi konsumen, Disperindag Provinsi Papua melalui Kasubdin Perdagangan, Ir. Kardin M. Simanjuntak, MMT, mengatakan akan mengadakan pertemuan bersama stake holder satu minggu sebelum puasa, bahkan Gubernur akan diundang untuk meninjau kondisi pasar. Dalam kesempatan tersebut sekalian menghimbau para pedagang, untuk berdagang secara wajar dan menertibkan barang- barang yang kadarluarsa sebelum puasa dan Natal. “Ini sudah dilakukan semacam kegiatan rutin,” kata Kardin.

Selain itu Kardin juga menyampaikan Instruksi dari departemen perdagangan membentuk posko Bapok (Bahan makanan pokok- red). Informasi ini sudah disampaikan keseluruh kabupaten kota agar di bentuk Posko Bapok. Tujuan Posko Bapok sebagai tempat pengaduan konsumen, apabila terjadi hal- hal yang tidak lazim di pasar, misalnya ada harga barang yang tidak wajar dan stok barang yang kurang, sehingga cepat untuk ditanggulangi.

Dari pantauan Disperindag memang sudah ada kebutuhan pokok yang naik, karena ditempat asalnya sudah naik. bahan- bahan yang saat ini mulai naik seperti bumbu- bumbu, akibat faktor musim, misalnya di daerah produsen hujan akan menganggu transportasi. Kalau gula di daerah jawa timur memang sudah naik Rp 100- Rp 200 per kilo, otomatis di daerah pemasarannya pasti akan ada kenaikan. Bahkan Pengalaman tahun lalu memasuki bulan Ramadhan harga telur memang naik signifikan akibat suplai berkurang, apalagi kebutuhan meningkat di bulan puasa. Sedangkan ada pedagang tidak mau mendatangkan telur karena ada retribusi dua kali, dari Karantina dan pertanian. “Retribusinya satu telur dikenakan 10 rupiah, ini sudah termasuk besar dalam perdagangan, otomatis akan mempengaruhi harga penjualan,” kata Kardin. Apalagi saat ini harga telur betul- betul dirasakan oleh masyarakat. kardin menghimbau para pedagang untuk menjalankan usahanya secara wajar dan tidak memanfaatkan situasi. Selain itu Kardin mengaku persediaan stok beras cukup selama menjelang puasa dengan harga yang stabil, seperti beras Bulog tahun- tahun sebelumnya stabil, kecuali beras yang bermerk yang didatangkan dari luar ada perbedaan harga. “Saya pikir dalam batas- batas yang terkendali” tegas Kardin (Jon)

VETERAN SRIKANDI, MENJADI GURU SUKARELA

“Tugas kami mencerdaskan anak Papua supaya segera sederajat dengan anak- anak provinsi lain, itu motto kami”

Di kompleks jalan masuk Sekolah Tinggi Filsafat Timur (STFT) Padang Bulan, tampak sebuah rumah sederhana namun tertata apik. Tembok rumah bercat putih dengan kursi yang tertata rapi. Suasana di dalam rumah begitu tenang dan nyaman ditambah angin sepoi- sepoi masuk lewat teralis pagar membuat siapa saja yang bertamu akan merasa tenang. Tampak sebuah papan nama tertulis nama pemilik rumah Drs. Tarmidja.

Dra. Siti Roekayah, M. Si, seorang yang penuh kasih, berjiwa pemberani dan bertekad baja. Walaupun pada saat ini sudah berusia 72 tahun, namun masih terlihat dari raut wajahnya sebagai sosok yang punya pemikiran jenius. Setelah lulus Sekolah Guru Agama (SGA) di Jawa Timur, ibu Siti bekerja menjadi guru SD Tulung Rejo, Jawa Timur. Setelah satu tahun bekerja akhirnya diangkat menjadi Wakil Kepala Sekolah. Tahun 1959- 1960 ibu Siti pindah ke SD Pesangrahan dan pada tahun 1961- 1962 pindah lagi ke SD Mojorejo menjadi kepala sekolah.

Meskipun sudah mempunyai jabatan yang tinggi, Ibu Siti keluar dari jabatannya dan mengikuti kata hatinya untuk berjuang ke Papua. Tepat di bulan Oktober 1962 Ibu beranak satu ini masuk Sukarelawati, masuk Batalion Bro Wijoyo, karena semuanya perempuan maka disebut Batalion Srikandi. Selama dua bulan dilatih di kompi 3 mendapat pendidikan menembak, bongkar pasang senjata, ilmu medan dan ilmu tempur. “Itu dulu, sekarang tidak lagi,” kata suami dari Prof. Drs. Tarmidja K, M. A ini.

Tepat 29 November 1962 Ibu Siti diberangkatkan ke Papua bersama 5 orang temannya yang lulus seleksi, di tambah 2 orang dari Bandung dan Ambon. Penerbangan mereka sudah istimewa menggunakan pesawat Elektra (Sejenis pesawat Jet- red). “Saya bersama 5 orang teman dan Sujarwo Tuntontoro tidak boleh dipindahkan kemana- mana untuk memberi kekuatan basis Jayapura, khususnya pendidikan,” kata Ibu yang dilahirkan di Kediri, 29 November 1937

Ibu Siti bersama 5 orang temannya, selama satu minggu belum dapat makan karena Pemerintah Indonesia belum siap dan Pemerintah UNTEA tidak mau menanggung biaya hidup mereka. “Setiap kali mau makan kami harus ke gunung Ifar, Sentani diangkut pakai mobil truck. makan bergabung dengan Tentara, setiap hari seperti itu dari Jayapura ke Sentani,” kenang Lulusan S2 UI ini.

1 Januari 1963 Ibu Siti diangkat menjadi guru SD 3 Abepura, pada saat itu muridnya dari anak- anak Knil dan pegawai Belanda (Orang asli, pegawainya belanda- red), orang asli Papua tidak boleh sekolah. Setelah menjadi pegawai UNTEA, Ibu Siti mengontrak rumah seorang Pendeta yang bernama Leborang dari Sanger, akhirnya rumah itu diberinama Wisma Srikandi. Setelah serah terima dari Menir (guru dari Belanda- red), Ibu Siti langsung mendidik anak- anak asli melalui hal- hal yang sederhana, seperti mencuci tangan dan mencuci kaki. Selain mengajar SD, ibu Siti mengajar mama- mama untuk menjahit dan memasak serta mengajar buta aksara. “Setiap hari saya membawa kain untuk membersihkan ingus- ingus mereka. Saya melakukan ini dengan sukacita, karena saya berjiwa pendidik,” kata Majelis Gereja GKI Sion ini.

Bulan November 1964, Ibu Siti menikah dengan Prof. Drs. Tarmidja K, M.A, sekaligus pembaptisan dirinya sebagai pengakuan sebagai pengikut Kristus. Dan mereka dikarunai seorang putra Insinyur Pertanian. “Sejak lama saya sudah lama mengikuti ibadah tetapi baru saat itu bisa dibaptis,” kata ibu Siti yang semua teman- temannya sudah meninggal semua. (Jon)

HARGA BARANG MAHAL DI PAPUA

Di tengah hiruk- pikuknya pasar Youtefa, mama Marsiana bertahan dengan keuntungan Rp 50ribu. Di terminal Youtefa ia mengelar dagangannya berupa buah pinang dan sirih. Sambil menunggu pembeli tangannya yang terampil merajut sebuah tas noken (tas khas Papua-red). Ibu beranak 4 ini mengaku pendapatannya hanya bisa untuk uang taksi dan sisanya untuk membeli beras. “Harga barang sekarang mahal seperti beras saja Rp 5ribu/kg, saya hanya bisa membeli satu kilo saja, untuk dua kali masak,” kata Marsiana.

Mama Marsiana sekian dari Mama- mama di Papua yang mengeluh mengenai harga sembako meningkat. Menurut Manager Mega Supermarket Abepura- Jayapura, Harga sembako di Papua tidak berbeda jauh dengan harga di Pulau Jawa. Misalnya Sembako perbandingan harga berkisar antara 10-20%, kecuali barang- barang elektronik perbedaannya 100- 150% itu wajar karena resikonya juga banyak. “Sebenarnya kita tidak bisa bermain harga, karena antara supermarket mulai bersaing. Yang bisa bermain harga adalah pengusaha di luar supermarket,“ katanya. Penjaga Elektronik Centeral mengakui perbandingan harga di Papua dengan Provinsi lain berbeda mencapai dua kali lipat. “Bedanya dua kali lipat mas,“ kata Agung.

Ketua DPRP komisi B saat ditemui Foja diruang kerjanya menilai tingginya harga barang di Papua, secara objektif disebabkan setiap barang didatangkan dari luar, setelah datang di Papua barang tersebut sudah dibebani biaya transportasi yang cukup tinggi. Sistim pergudangan di Papua masih belum bagus, masih biaya tinggi. Hal ini disebabkan keamanan di gudang. Harga barang di Papua berbeda antara Kota Jayapura dan pedalaman karena biaya transportasi dan faktor lainnya adalah di Papua terlalu jauh mengikuti hukum pasar, sedangkan Pemerintah belum memiliki sistim kontrol terhadap harga barang. “Untuk mengontrol harga kita harus memiliki badan usaha holding company yang bisa mengontrol harga barang. Pemerintah bisa intervensi untuk ikut mendatangkan barang- barang sehingga bisa dijual dengan harga yang layak kepada rakyat dan sudah ada program badan usaha bidang penerbangan untuk mengurangi biaya transportasi udara yang begitu mahal disebut Papua Gracia, tetapi masih ada hambatan,“ kata Sumino.

Menurut Rayar Habel, General Manager PT. Pelindo IV (Persero) cabang Jayapura, salah satu faktor penghambat dan tingginya harga barang diakibatkan kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Jayapura terganggu akibat dari luas pelabuhan yang semakin sempit sedangkan jumlah kontainer yang siap dibongkar sudah menunggu. Apalagi Papua memiliki 27 kota pemekaran, sedangkan pelabuhan hanya satu, hal ini sangat menganggu kita dan pihak pengusaha. “Sarana pendukung seperti dermaga dan lapangan penumpukan kontainer terbatas, belum lagi kalau kapal putih (Kapal Penumpang-red) bersandar, otomatis kapal barang harus menyingkir dahulu, ini menambah ongkos lagi bagi mereka, sehingga berpengaruh di harga barang,” jelasnya.

Menurut Disperindag Provinsi melalui Kepala seksi perdagangan dalam negeri, Ayub Marbo, S. IP, menilai Provinsi Papua 95% bergantung dari produk wilayah lain akibat tidak adanya produksi yang terjadi di Papua. Dan dilihat dari letak geogarafis sangat jauh sehingga wajar harga barang berbeda dari pulau lain. “Harga jual di Papua tidak mungkin sama dengan di pulau Jawa, tetapi setiap hari kami selalu memantau harga barang, jikalau ada yang bermain- main dengan harga barang maka kita akan panggil pengusaha atau pedagang tersebut,” kata Marbo.

Menanggapi harga yang melambung sehingga mencekik rakyat kecil, DR. Ferdinan Risamasu, SE, M.SC, A.gr, pengamat ekonomi Uncen mengatakan di Papua hanya sektor bisnis yang bergerak hanya dalam bentuk jasa konstruksi saja, sehingga 90% bergantung dari pulau lain, seperti Jawa, Surabaya dan Ujung Pandang.

Rendahnya tingkat produksi membuat harga barang meningkat. Kalau kita mau harga murah di Papua harus ada peningkatan kesejahteraan masyarakat, iklim bisnis yang kondusif, seperti kepemilikan tanah yang selalu bermasalah dan terbatasnya energi listrik. Apalagi pada saat ini lembaga perlindungan konsumen seperti YLKI belum ada. “Tidak ada fungsi kontrol dan tidak ada kajian- kajian tertentu dari pemerintah,” kata Risamasu

Kalau Papua mau mempersiapkan produksi maka semua hal harus dilakukan seperti bahan baku, tenaga kerja, mesin, energi, kepastian hukum, keamanan yang kondusif dan pemalangan yang tidak pernah terselesaikan. “Kita tidak berani bermain disektor riil,” kata Risamasu (Jon)

PENJAGA ANAK-ANAK

“Saat anak- anak masih tertidur, saya harus meninggalkan mereka. Hatiku tak tega, namun mau bagaimana lagi,”

Rumah sederhana yang terletak di Polimak dekat jalan raya Entrop- Jayapura ini tertata apik. Tampak perempuan paruh baya sedang asyik menimang buah hatinya. Tangannya yang lembut memberi ketenangan dan kehangatan bagi sang bayi, yang sedang terlelap tidur dalam dekapan sang ibu.

Ferdinanda Wugadje, yang biasa disapa Bu Nanda, sudah tak asing lagi bagi siswa- siswi maupun para guru Sekolah Kalam Kudus. Ibu Nanda yang kesehariannya bekerja sebagai cleaning service di sekolah tersebut selalu terlihat ceria. Ia menekuni pekerjaan ini sejak tahun 2004 hingga tahun 2007.

Berkat keuletan dan kesetiaannya dalam melakukan pekerjaan kecil ini, akhirnya pada tahun 2007 ia dipercaya untuk menjadi Satpam. “Pada saat itu, pihak sekolah membutuhkan seorang Satpam perempuan dan menyuruh saya mencarinya. Dengan memberanikan diri saya menawarkan diri supaya diangkat menjadi Satpam, akhirnya koordinator sekolah mengatakan supaya saya menanyakan persetujuan suami dan suami saya setuju,” kata suami dari Wetsy Pihahei ini.

Wanita, kelahiran Sorong, 3 November 1973 ini mengaku bersyukur mendapat pekerjaan tetap, walaupun sebagai security, namun bagi perempuan beranak tiga ini, pekerjaan itu sangat berarti demi meringankan beban hidup dan membantu suami. “Sekarang mencari pekerjaan susah, apalagi saya hanya tamatan SMP mau kerja apa,” kata ibu yang bercita- cita menjadi Polwan ini.

Menjalani pekerjaan sebagai security memang membutuhkan kesabaran dan kewaspadaan. Apalagi Nanda dituntut untuk menjaga anak- anak TK (Taman Kanak- kanak) dan mengawasi orangtua yang mengantar atau menjemput, demi keamanan. “Anak TK perlu diawasi karena belum tau apa- apa, kalau SD atau SMP nga masalah,” kata ibu yang hobi main volly ini.

Disiplin, tepat waktu dan bertanggungjawab itulah prinsip yang diterapkan Nanda dalam menjalankan tugasnya sebagai security. Walaupun konsekuensi dalam melaksanakan tugasnya kadang- kadang harus beradu mulut dengan orangtua murid yang meminta gerbang pintu dibuka pada padahal sudah terlambat. Namun ia tetap konsisten pada aturan sekolah yang ada. “Kalau jam 7.30 gerbang sudah tutup, namun ada orangtua murid berusaha memaksa masuk, supaya anaknya dapat mengikuti proses belajar,” kata Nanda

“Ada juga anak- anak yang terlambat melapor keorangtuanya, dan orangtuanya itu ngamuk ke kita,” kata Nanda. Tantangan itulah yang membentuk Nanda tetap bersemangat menjalankan tugasnya. Apalagi Ia melakukan tugasnya mulai pukul 06.00 sampai 14.00. Ia merasa enjoy dengan pekerjaan ini, walaupun buah hatinya yang baru dilahirkan beberapa pekan lalu harus ditinggalkan. “Saya tidak seperti ibu- ibu yang lain, yang pagi- pagi menyiapkan makanan untuk anak- anaknya, namun setiap pagi saya harus berangkat, pada saat anak- anak masih tertidur,” kata ibu security ini. (Jon)